BUNG KARNO " Penyambung Lidah Rakyat Indonesia "

0 komentar Sabtu, 17 Juli 2010



Sukarno, alias Bung Karno lahir di Surabaya, 6 Juni 1901. Ayahnya seorang mantri guru bernama R. Soekemi Sosrodiharjo dan Ibunya, Nyoman Rai Sarimben, kerabat seorang Bangsawan di Singaraja (Bali).
Sukarno kecil menamatkan ELS (Europeeshe Lagere Scholl) di Mojokerto, HBS (Hogere Burger Scholl) di Surabaya dan TH ( Technishe Hooge Scholl Bandung). Beliau berhasil meraih gelar Insinyurnya pada 25 Mei 1926.

Tahun 1927 Bung Karno mendirikan PNI (Partai Nasionalis Indonesia) dengan tujuan Indonesia Merdeka. Belanja memenjarakannya di Sukamiskin Bandung. Pidato pembelaanya di Landraad Bandung " Indonesia Menggugat " menggegerkan dunia.
Setelah bebas, beliau memimpin Partindo (Partai Indonesia). Beliau kembali ditangkap dan dibuang di Endeh, Flores tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu hingga Jepang masuk Indonesia.

1 Juni 1945 Bung Karno mencetuskan Pancasila, dasar dan falsafah negara Indonesia Merdeka. Pancasila lalu dimasukkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Keesokan harinya, Ir. Soekarno secara Aklamasi dipilih dan ditetapkan sebagai Presiden Pertama Republik Indonesia.

Pada tahun 1962 Presiden Sukarno berhasil mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia. Beliau juga aktif memperjuangkan kemerdekaan negara-nagara terjajah melalui Konferensi Asia-Afrika dan berupaya membangun tata Dunia Baru bersama sejumlah tokoh dunia.

Bung Karno mendapat gelar Honoris Causa dari 26 universitas di dalam maupun di luar negeri dan berbagai sebutan kehormatan dari rakyat. Bapak bangsa, Bapak Marhaen, Pemimpin Agung, Pemimpin Besar Revolusi dan lain-lain, begitu beliau di sebut.
Namun beliau lebih suka disebut sebagai Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Tahun 1965 terjadi Peristiwa G 30 S yang bertujuan mengambil alih kekuasaan pemerintah Bung Karno. Tragisnya, Bung Karno dituduh "dalang" peristiwa tersebut.
MPRS rekayasa Orde Baru mengakhiri kekuasaan Bung Karno, dan Tap MPRS XXXIII Tahun 1967 melarang kehidupan politik Bung Karno beserta ajarannya. Secara fisik Bung Karno diasingkan di Wisma Yaso, Jakarta.

Minggu, 21 Juni 1970, Bung Karno wafat dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur di dekat makam Ibundanya. Namun, penghacuran terhadap karisma Bung Karno tak kunjung surut. Nama Bung Karno berusaha dilenyapkan melalui praktik-praktik desukarnoisasi. Pengingkaran peran sejarah Bung Karno dilakukan melalui buku-buku pendidikan.
Bung Karno disebut bukan orang yang pertama merumuskan Pancasila, melainkan Muhamad Yamin dan Supomo. Dan sampai sekarang Bung Karno secara resmi tidak dikukuhkan sebagai Bapak Bangsa oleh Pemerintah.

" Tarling " asal kata Gitar & Suling

0 komentar Jumat, 16 Juli 2010



Tarling merupakan kesenian khas dari wilayah pesisir timur laut Jawa Barat (Indramayu-Cirebon dan sekitarnya). Bentuk kesenian ini pada dasarnya adalah pertunjukan musik, namun disertai dengan drama pendek. Nama "tarling" diambil dari singkatan dua alat musik dominan: gitar akuistik dan suling. Selain kedua instrumen ini, terdapat pula sejumlah perkusi, saron, kempul, dan gong.

Awal perkembangan tarling tidak jelas. Namun demikian, pada tahun 1950-an musik serupa tarling telah disiarkan oleh RRI Cirebon dalam acara "Irama Kota Udang", dan menjadikannya populer. Pada tahun 1960-an pertunjukan ini sudah dinamakan "tarling" dan mulai masuk unsur-unsur drama.

Semenjak meluasnya popularitas dangdut pada tahun 1980-an, kesenian tarling terdesak. Ini memaksa para seniman tarling memasukkan unsur-unsur dangdut dalam pertunjukan mereka, dan hasil percampuran ini dijuluki tarling-dangdut (atau tarlingdut). Selanjutnya, akibat tuntutan konsumennya sendiri, lagu-lagu tarling di campur dengan perangkat musik elektronik sehingga terbentuk grup-grup organ tunggal tarling organ. Pada saat ini, tarling sudah sangat jarang dipertunjukkan dan tidak lagi populer. Tarling dangdut lebih tepat disebut dangdut Cirebon.

Sejarah Tarling Cirebonan

Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai utara (pantura), terutama Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon, kesenian tarling telah begitu akrab. Alunan bunyi yang dihasilkan dari alat musik gitar dan suling, seolah mampu menghilangkan beratnya beban hidup yang menghimpit. Lirik lagu maupun kisah yang diceritakan di dalamnya, juga mampu memberikan pesan moral yang mencerahkan dan menghibur.

Meski telah begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat, tak banyak yang mengetahui bagaimana asal-usul terciptanya tarling. Selain itu, tak juga diketahui dari mana sebenarnya kesenian tarling itu terlahir.

Namun yang pasti, tarling merupakan kesenian yang lahir di tengah rakyat pantura, dan bukan kesenian yang 'istana sentris'. Karenanya, tarling terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, dan tidak terikat ritme serta tatanan tertentu sebagaimana seni yang lahir di tengah 'istana'.


Melodi Kota Ayu dan Melodi Kota Udang

Sebelum 'resmi' bernama tarling, kesenian ini dikenal dengan sebutan 'melodi kota ayu' di Kabupaten Indramayu, dan 'melodi kota udang' di Cirebon. Pada 17 Agustus 1962, ketua Badan Pemerintah Harian (BPH, sekarang DPRD) Kabupaten Cirebon, menyebut kesenian itu dengan sebutan tarling.

Nama tarling itu diidentikkan dengan asal kata 'itar' (gitar dalam bahasa Indonesia) dan suling (seruling). Versi lain pun mengatakan bahwa tarling mengandung filosofi 'yen wis mlatar kudu eling'' (jika sudah berbuat negatif, maka harus bertaubat).

Salah seorang tokoh seni asal Kabupaten Indramayu, Supali Kasim, membuat catatan tersendiri soal tarling dalam bukunya yang berjudul Tarling, Migrasi Bunyi dari Gamelan ke Gitar-Suling. Dalam buku itu dia menuturkan, asal tarling mulai muncul sekitar tahun 1931 di Desa Kepandean, Kecamatan / Kabupaten Indramayu. Saat itu, ada seorang komisaris Belanda yang meminta tolong kepada warga setempat yang bernama Mang Sakim, untuk memperbaiki gitar miliknya. Mang Sakim waktu itu dikenal sebagai ahli gamelan.

Usai diperbaiki, sang komisaris Belanda itu ternyata tak jua mengambil kembali gitarnya. Kesempatan itu akhirnya dipergunakan Mang Sakim untuk mempelajari nada-nada gitar, dan membandingkannya dengan nada-nada pentatonis gamelan.

Hal itupun dilakukan oleh anak Mang Sakim yang bernama Sugra. Bahkan, Sugra kemudian membuat eksperimen dengan memindahkan nada-nada pentatonis gamelan ke dawai-dawai gitar yang bernada diatonis.

Karenanya, tembang-tembang (kiser) Dermayonan dan Cerbonan yang biasanya diiringi gamelan, bisa menjadi indah dengan iringan petikan gitar. "Keindahan itupun semakin lengkap setelah petikan dawai gitar diiringi dengan suling bambu yang mendayu-dayu," ujar Supali.

Alunan gitar dan suling bambu yang menyajikan kiser Dermayonan dan Cerbonan itu pun mulai mewabah sekitar dekade 1930-an. Kala itu, anak-anak muda di berbagai pelosok desa di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon, menerimanya sebagai suatu gaya hidup.

Bahkan pada 1935, alunan musik tarling juga dilengkapi dengan kotak sabun yang berfungsi sebagai kendang, dan kendi sebagai gong. Kemudian pada 1936, alunan tarling dilengkapi dengan alat musik lain berupa baskom dan ketipung kecil yang berfungsi sebagai perkusi.

Sugra dan teman-temannya pun sering diundang untuk manggung di pesta-pesta hajatan, meski tanpa honor. Biasanya, panggung itu pun hanya berupa tikar yang diterangi lampu patromak (saat malam hari).

Tak berhenti sampai di situ, Sugra pun melengkapi pertunjukkan tarlingnya dengan pergelaran drama. Adapun drama yang disampaikannya itu berkisah tentang kehidupan sehari-hari yang terjadi di tengah masyarakat. Akhirnya, lahirlah lakon-lakon seperti Saida-Saeni, Pegat Balen, maupun Lair Batin yang begitu melegenda hingga kini. Bahkan, lakon Saida-Saeni yang berakhir tragis, selalu menguras air mata para penontonnya.

Tak hanya Sugra, di Kabupaten Indramayu pun muncul sederet nama yang melambungkan tarling hingga ke berbagai pelosok daerah. Di antara nama itu adalah Jayana, Raden Sulam, Carinih, Yayah Kamsiyah, Hj Dariah, dan Dadang Darniyah. Pada dekade 1950-an, di Kabupaten Cirebon muncul tokoh tarlig bernama Uci Sanusi.

Kemudian pada dekade 1960-an, muncul tokoh lain dalam blantika kesenian tarling, yakni Abdul Ajib yang berasal dari Desa Buyut, Kecamatan Cirebon Utara, Kabupaten Cirebon, dan Sunarto Marta Atmaja, asal Desa Jemaras, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon.

Seni tarling saat ini memang telah hampir punah. "Namun, tarling selamanya tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah masyarakat pesisir pantura Dermayon dan Cerbon," tandas Supali.

#dari serbagai sumber

SINTREN Seni Tradisional Yang Makin Langka

0 komentar



Sintren adalan kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di Pekalongan. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Barat, antara lain di Pemalang, Pekalongan, Brebes, Banyumas, Kuningan, Cirebon, Indramayu, dan Jatibarang. Kesenian Sintren dikenal juga dengan nama lais. Kesenian Sintren dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.

Sejarah

Kesenian Sintren berasal dari kisah Sulandono sebagai putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.

Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan).

Karena itulah dalam pementasan sintren penarinya selalu dimasuki roh yang dipanggil oleh orang yang berperan sebagai pawang, dengan cara membaca mantera dan membakar kemenyan. Adapun mantera yang dinyanyikan itu liriknya antara lain sebagai berikut :
Turun-turun sintren
Sintrene bidadari
Nemu Kembang Yun ayunan
Nemu Kembang Yun ayunan
kembange si Jaya Indra
Bidadari temurunan

Setelah roh yang dipanggil masuk, penari menjadi kaserupan dan menari dengan gerakan asal-asalan. Ia akan terus menari dan baru akan terjatuh ketika ada penonton yang melemparkan uang atau pakaian ke tubuhnya. Menariknya lagi, dalam pementasa sintren juga ada unsur-unsur sulapnya, sehingga anak-anak kecil pun banyak yang menyukai, apalagi ditambah bodor atau pelawak yang turut menyegarkan pementasan sintren ini.

Bentuk pertunjukan

Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawang dengan diiringi gending 6 orang. Dalam perkembangannya tari sintren sebagai hiburan budaya, kemudian dilengkapi dengan penari pendamping dan bodor (lawak).

Dalam permainan kesenian rakyat pun Dewi Lanjar berpengaruh antara lain dalam permainan Sintren, si pawang (dalang) sering mengundang Roh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam permainan Sintren. Bila, roh Dewi Lanjar berhasil diundang, maka penari Sintren akan terlihat lebih cantik dan membawakan tarian lebih lincah dan mempesona.

menurut beberapa catatan, kesenian sintren yang berbau mistis ini konon dulunya cuma berupa permainan di kalangan anak-anak dan istri nelayan, dan belum terbentuk sebuah kesenian, permainan ini dimainkan sembari menanti sang suami pulang dari melaut.
Adapula pendapat lain yang mengatakan, permainan tersebut sebelumnya tidak meiliki nama, namun karena banyak yang menggemari, permainan ini pun sering dipentaskan keliling kampung. Pada saat itulah dalam permainan tersebut mulai disisipkan beberapa alat musik dari yang tradisional sampai modern seperti gitar, maka saat itulah permainan ini dinamakan " Sintren "

Sintren tergolong kesenian yang unik dan berbau mistik. Selain pemainnya harus gadis /perawan yang masih suci belum belum tersentuh lawan jenis, dalam kesenian ini juga ada ritual yang yang ditandai dengan bakar kemenyan, dan pembacaan mantera-mantera.
Karena keunikan itulan sintren dulu pernah menjadi kesenian yang populer di kalangan masyarakat pantura.

Namun seiring kemajuan jaman, kesenian sintren ini nyaris tinggal kenangan. Sebagaimana Tarling dan kesenian tradisional lainnya, karena sudah terdesak oleh kesenian modern lainnya.
Beruntung Pemerintah Kota Cirebon masih berupaya untuk mencoba menghidupkan kembali kesenian ini seperti pada setiap perayaan hari jadi Kota Cirebon, kesenian ini sering ditampilkan, sehingga kesenian ini dapat terjaga eksistensinya.

@ dari berbagai sumber.

KERATON Magnet Budaya & Wisata

0 komentar



Sebagai salah satu situs bersejarah, keraton-keraton di Cirebon dan benda-benda kuno yang dimilikinya mempunyai daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, terutama turis asing yang ingin mengenal lebih jauh sejarah Nusantara. Apa yang dimiliki keraton-keraton di Cirebon itu pun disadari oleh pemerintah sebagai salah satu potensi wisata yang harus diperhatikan dan dikembangkan, untuk dapat memberikan sumber pendapatan bagi daerah.

Upaya yang sudah dilakukan, antara lain digelarnya seminar dengan tema " Keraton-Keraton Sebagai Magnet Budaya dan Pariwisata Jawa Barat " pada tanggal 3 Maret 2010, uapaya ini dimaksudkan untuk menggali lebih banyak lagi gagasan dan saran yang dibutuhkan agar kerato-keraton di Cirebon dapat betul-betul menjadi magnet budaya dan pariwisata di Jawa Barat, namun sepertinya seminar ini belum ditindaklanjuti dengan realisasi apapun sebagai follow up-nya.

Sebagaimana diakui Ratu Raja Arimbi Nurtina, ST dari Keraton Kanoman Cirebon, bahwa belum ada follow up dari seminar tersebut. ia berharap, antar keraton-keraton dan pemerintah dan keraton dengan masyarakat, sebab dengan dijadikannya keraton sebagai cagar budaya, berarti keraton itu bukan lagi cuma milik keluarga dan kerabatnya, tetapi juga milik pemerintah dan masyarakat, karena itu dibutuhkan adanya sinergitas antara keraton, pemerintah dan masyarakat untuk menjadikan keraton sebagai magnet budaya dan wisata di Jawa Barat.

Ratu Arimbi sendiri menyadari, untuk menjadikan keraton sebagai magnet budaya dan wisata tidak cukup hanya mengandalkan bangunan-bangunan dan benda kuno yang ada di keraton, tetapi harus pula diisi dengan pagelaran-pagelaran seni tradisional Cirebon, berikut pagelaran-pagelaran tradisi yang dulu pernah ada di keraton-keraton Cirebon. namun untuk merealisasikannya terbentur kendala biaya, karena itulah Ratu Arimbi mengharapkan adanya sinergitas untuk bersama-sama menjaga dan mengembangkan budaya serta kepariwisataan di Kota Cirebon ini.

Ratu Arimbi berharap juga kepada Pemerintah Kota Cirebon bahwa Pasar Kanoman yang letaknya menutupi keraton agar dibenahi dan menata kembali pasar tersebut, sehingga tidak mengganggu fungsi keraton sebagai potensi wisata, dan dapat memberikan akses jalan masuk bagi pengunjung yang ingin datang ke Keraton Kanoman.

@ dari berbagai sumber

Visi dan Misi Unswagati Cirebon

0 komentar Kamis, 15 Juli 2010

Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Unswagati telah merumuskan visi dan misi yang tertuang dalam Statuta Unswagati tahun 2005. Mudah-mudahan, Unswagati ke depan menjadi sebuah lembaga pendidikan tinggi yang mempunyai pusat penelitian bertaraf nasional. Dengan disertai komitmen yang tinggi terhadap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, maka dikembangkanlah masyarakat ilmiah yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, visi Unswagati adalah terwujudnya universitas unggulan yang mandiri dan kompetitif dalam penyelenggaraan Tridarma Perguruan Tinggi, untuk menghasilkan lulusan yang beriman dan taqwa, bermoral Pancasila, berwawasan dan berkemampuan ilmu dan teknologi serta memiliki kepemimpinan dan semangat kejuangan yang tinggi dalam mendukung pembangunan nasional.

Misi Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) adalah sebagai berikut

1. Meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia, sarana dan prasarana.

2. Memadukan secara sinergi keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, ilmu pengetahuan, teknologi, seni secara selaras, seimbang untuk diamalkan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang berbahagia di dunia dan akherat.

3. Mempersiapkan lulusan yang mempunyai kepemimpinan (leadership) yang handal.

4. Menyelenggarakan kehidupan kampus sebagai masyarakat ilmiah yang berkualitas berdasarkan moral Pancasila.

Dalam meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia, sarana, dan prasarana perlu diciptakan manajemen yang efektif dan efisien terhadap proses pendidikan, pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat serta membantu mahasiswa untuk berkembang menjadi ahli dan profesional sesuai dengan bidang studinya, sehingga mampu bersaing dalam setiap peluang bagi pengembangan dirinya.

Berdasarkan misi ini sebagai lembaga pendidikan tinggi, Unswagati juga harus mengembangkan dosen dan karyawannya agar mampu menjadikan dirinya berkemampuan tinggi dan memiliki daya saing global, di samping melaksanakan fungsinya yaitu

1. Menghasilkan anggota masyarakat yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak tinggi, berbudaya Indonesia, bertanggungjawab, bersemangat ilmiah, serta memiliki kemampuan akademik dan profesional serta sanggup berkinerja di lingkungan kerjanya serta ;

a) Mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengembangkan kemampuan diri terhadap tuntutan kemajuan di bidangnya dan berperan dalam pemiliharaan dan operasional proses produksi, bagi lulusan jenjang sarjana.

b) Mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta penerapannya dalam improvisasi dan inovasi produksi, bagi lulusan jenjang pascasarjana serta memiliki semangat kemandirian serta community oriented serta berwawasan nasional dan global.

2. Menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi baru, menghasilkan peneliti dan pemikir dalam memutahirkan pengetahuan dan kemampuan mereka untuk memiliki daya dalam menghimpun, mengalihkan, menyebarkan, menafsirkan, dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat regional, nasional dan global.

3. Menyebarkan hasil penelitian terapan, kaji tindak serta paket teknologi tepat guna, untuk dimanfaatkan dalam kegiatan produktif dan meningkatkan mutu kehidupan masyarakat regional, nasional dan global.

4. Menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing dalam pasar kerja atau menciptakan lapangan kerja untuk kepentingan bangsa dalam tingkatan daerah dan nasional.

Sebagai lembaga pendidikan tinggi, UNSWAGATI perlu mengembangkan budaya yang sekurang-kurangnya mengembangkan dan memasyarakatkan nilai-nilai di bawah ini



1. Menjunjung tinggi standar etika, moral, ilmu pengetahuan, penelitian, dan profesi yang paling tinggi.

2. Membantu mengembangkan manusia secara optimal, baik di lingkungan kampus maupun di lingkungan masyarakat.

3. Mengembangkan ilmu secara bertanggungjawab dan berkesinambungan sebagai falsafah hidup.

4. Mengamalkan ilmu bagi kepentingan dan kesejahteraan umat manusia, tanpa membedakan agama dan suku bangsa.

5. Memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya.



Secara institusional Universitas Swadaya Gunung Jati mempunyai tujuan untuk;

1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kepribadian dan kemampuan akademik yang profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menghasilkan karya, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berguna untuk masyarakat.

2. Menggali, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berguna bagi peningkatan kualitas hidup manusia, kesejahteraan masyarakat serta memperkaya dan mempertinggi kebudayaan nasional.

3. Ikut serta dalam menanggulangi masalah-masalah sosial yang merupakan bagian dari pada bangsa Indonesia.

Persiapan Alih Status menjadi PTN Unswagati

0 komentar



Menghadapi PTN Unswagati melakukan berbagai persiapan dan pembenahan, baik sarana maupun prasarana dan juga SDM tentunya. Dengan mengadakan Silaturahmi dan kunjungan kerja (Study Banding) Ke UII Jogyakarta (09 Juli 2010) sebagai Perguruan Tinggi nasional dan tertua di Indonesia juga menjadi pringkat 1 untuk bidang Karya Ilmiah dan peringkat 13 urutan perguruan tinggi terbaik di Indonesia serta urutan 72 se ASEAN. Banyak hal yang telah dihasilkan oleh perguruan tinggi itu, tentunya menjadi harapan untuk Unswagati dapat mengikuti jejak sebagai perguruan tinggi yang kompetitif dimasa yang akan datang.

Segala bidang menjadi sorotan untuk dapat melihat dan mencari tahu dari segi kemajuannya seperti Wakil Rektor I yang membidangi akademik, Wakil Rektor II yang membidangi Umum, Kepegawaian dan Keuangan dan Wakil Rektor III yang membidangi Kemahsiswaan serta juga Bidang Kerjasama, LPPM, SPI, LPM dan ikut pula di dalamnya fakultas Teknik dan Fakultas Hukum hal ini dirasa perlu karena prestasi fakultas-fakultas tersebut di UII telah menelurkan alumni-alumni yang berhasil menjadi tokoh-tokoh penting di pemerintahan sehingga diharapkan studi banding ini dapat lebih meningkatkan kemajuan Unswagati yang akan datang .

Unswagati bertambah Guru Besar

Sidang Senat Terbuka Unswagati Cirebon, mengukuhkan Dr. Abdul Rozak, M.Pd. di Hotel Zamrud Watu Giok Room tanggal 07 Juli 2010. kegiatan yang dihadiri oleh Kordinator Kopertis IV Prof. Dr. Abdul Halim Hakim, Muspida Kota Cirebon, Para Kepala sekolah Kota Cirebon, Dosen, Karyawan dan Mahasiswa. Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul "Penilaian yang Berkeadilan dan Berdaya Ungkap Kompetensi Teruji Antara Ujian Nasional dan Tanggung Jawab Guru (Kasus dalam Pembelajaran Apresiasi Sastra)." Ia menyampaikan, Ujian Nasional (UN) menggoyang seluruh sel masyarakat. semua elemen memberikan perhatian dan unsur pemerintah daerah sangat berkepentingan terhadap hasil UN. sementara itu Rektor dalam sambutannya menyebutkan pengukuhan guru besar kali ini meruapakan yang kelima."sebelumnya sudah ada beberapa dosen yang telah dikukuhkan sebagai guru besar."

Sejarah Singkat Unswagati Cirebon

0 komentar




UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG DJATI (UNSWAGATI)

Jenis Perguruan Tinggi : Swasta
A l a m a t : Jl. Pemuda No. 32 Sartika, Cirebon, jawa Barat 45132
Telepon : 0231 - 206558
F a x : 0231 - 242017
E-Mail : unswagati@cirebon.wasantara.net.id
Nama Rektor : Jusup Mulia, Drs, MBA
Sejarah Singkat

Tanggal Berdiri : 21 Desember 1960
Pendiri : Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati

Pada awalnya perguruan tinggi ini berpindah-pindah kampus di ruang-ruang kantor milik Korem. Baru tahun 1967 universitas yang dikenal dengan sebutan Unswagati menempati bekas gedung SMA Garuda milik Baperki. Mula-mula Unswagati hanya mempunyai Fakultas Hukum dan Ekonomi. Lalu di tahun 1979, IKIP PGRI Ciwaringin Cirebon bergabung menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tahun 1983 dibuka pula tiga fakultas yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian.

Profil

Jumlah Mahasiswa : 4.212
Jumlah Alumni : 6.581
Jumlah Dosen Tetap : 356
Jumlah Dosen Lulusan S2 : -
Jumlah Dosen Lulusan S3 : Doktor 31, Profesor 7
Luas Kampus : 16.940 m2
Koleksi Perpustakaan : 12.532 judul, luas 74 m2
Laboratorium : Laboratorium seperti lab komputer, bahasa, teknik sipil, pertanian, kebun percobaan, dan simulasi pengadilan.

Fasilitas Lain : gedung bertingkat dua di lahan seluas 16.940 m2, masing-masing fakultas memiliki 6 – 10 ruang kuliah, jadi terdapat sekitar 36 – 60 ruang kuliah dengan total luas 5.178 m2, tersedia OHP, white board, dan meja kursi chitose di setiap ruang kuliah. Universitas ini juga memiliki lembaga penelitian yang dinamai LPPM. Untuk aktivitas ekstra kurikuler mahasiswa bisa mengikuti berbagai program di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti LEM, MPM, SMF, BPM, HMJ, menwa, kopma, seni dan budaya, olahraga, IMMNI, KSR-PMI, pramuka, mapala dan banyak lagi.

Program Studi

Fakultas Hukum
- Program Studi Ilmu Hukum (S1-Terakreditasi C-1998)

Fakultas Ekonomi
Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan
- Program Studi Ekonomi Pembangunan (S1-Terdaftar-1999)
Jurusan Manajemen
- Program Studi Manajemen (S1-Terakreditasi C-1998)
Jurusan Akuntansi
- Program Studi Akuntansi (S1-Terakreditasi-B-1999)

Fakultas Pertanian
Jurusan Agronomi
- Program Studi Budi Daya Pertanian (S1-Terakreditasi B-1998)
Jurusan Sosek Pertanian
- Program Studi Sosek Pertanian (S1-Terakreditasi-C-1999)

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Jurusan Ilmu Pendidikan
- Program Studi Administrasi Pendidikan (S1-Disamakan-1994)
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
- Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (D3-Terdaftar-1992) (S1-Terakreditasi C-1998) - Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (D3-Diakui-1991) (S1-Terakreditasi-B-1999)
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
- Program Studi Pendidikan Matematika (D3-Terdaftar-1992) (S1-Terakreditasi-B-1999)
Jurusan Pendidikan Pengetahuan Sosial
- Program Studi Pendidikan Akuntansi (S1-Terakreditasi C-1998)

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
a. Jurusan Administrasi
- Program Studi Administasi Negara (S1-Terakreditasi B-1998)

6. Fakultas Teknik a. Jurusan Teknik Sipil - Program Studi Teknik Sipil (S1-Terdaftar-1994)

Favorit : Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, FKIP dan Fisip

Pendaftaran Mahasiswa Baru

T e s : Tes m*sensor*k
Biaya Kuliah : Biaya pembangunan), biaya SKS, uang kemahasiswaan. Tak ada uang praktikum.

Kondisi Pantai Pesisir Kota Cirebon Rusak

0 komentar



Kondisi pantai Kota Cirebon sepanjang 7 kilometer saat ini dalam kondisi memprihatinkan. Sekitar 20 persennya mengalami kerusakan yang cukup parah. Kerusakan ini terjadi karena keadaan iklim yang memang berubah-ubah serta masyarakat yang justru menebangi pohon bakau untuk kebutuhan mereka sehari-hari. "Karena itu harus ditanami pohon pelindung yang menghindari abrasi," kata Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, Peternakan dan Pertanian (DKP3) Kota Cirebon, Odi Supriyadi, hari ini.

Tahun ini Dinas Kelautan menargetkan penanaman 14 ribu pohon bakau di sepanjang pesisir Kota Cirebon. "Mangrove itu akan ditanam di tempat-tempat yang lebih terlindung, sehingga bisa tumbuh dan tidak hilang karena terbawa ombak," kata Odi usai penanaman 7 ribu pohon bakau di Pelabuhan Cirebon. Selanjutnya, kata Odi, masyarakat diminta turut menjaga kelestarian dengan menghentikan penebangan pohon bakau.

Sementara itu Adminstrator Pelabuhan Cirebon, Wahyu Widayat, menjelaskan penanaman 7 ribu pohon di pesisir pantai Kota Cirebon tidak lain dilakukan untuk melindungi dan menjaga kelestarian lingkungan. "Pemerintah memiliki program untuk menjaga kelestarian lingkungan pantai, diantaranya dengan melakukan penanaman mangrove ini," katanya.

Menurut Fadel Mohamad, sepanjang 530 kilometer pesisir utara Jawa rusak parah. "Tak ada mangrove, dan abrasi terus menggerogoti daratan," katanya. Kondisi ini semakin terasa sejak dasawarsa 1980-an, ketika pengusaha dan nelayan ramai-ramai membuat tambak. Harga udang yang tinggi mendorong mereka menebang hutan mangrove. Ketika itu, pemerintah menjadikan udang sebagai salah satu primadona ekspor.

Untuk menggenjot produktivitas dan menghadapi penyakit, para petambak menggunakan zat-zat kimia. Belakangan, tambak-tambak konvensional tersebut jadi lahan tidak produktif. Rata-rata umur tambak konvensional telah habis, yang ditandai dengan meningkatnya gejala "siklus racun" tahunan.

Para ahli menyimpulkan, kegagalan panen budi daya udang dalam tambak konvensional merupakan akibat hilangnya tegalan mangrove di kawasan tersebut. Luas hutan mangrove memang makin merosot sejak awal 1980-an. Ketika itu, ada 5,5 juta hektare mangrove di Tanah Air. Pada 1996 anjlok jadi 2,5 juta hektare. Dan pada 2000-an diperkirakan tersisa 2 juta hektare.

Selain tambak, alih fungsi hutan mangrove untuk permukiman, industri, dan kepentingan ekonomis lainnya. "Padahal hutan mangrove memiliki fungsi ekologis yang sangat besar," ujar Cecep Kusmana, pakar mangrove dan guru besar Institut Pertanian Bogor. Fungsi-fungsi tersebut, kata Cecep, sebagai tempat berkembangbiaknya ikan di perairan, filter polutan logam berat dari perairan laut, mengatur siklus hara, mengikat sedimen dari sungai, dan tempat singgah burung-burung migran serta habitat bagi satwa liar.

Peran lain yang sangat penting adalah mengurangi dampak langsung tsunami, pelindung daratan dari abrasi oleh ombak dan tiupan angin, serta pengendali intrusi air laut ke daratan. Fungsi ini jadi penting karena semakin naiknya paras muka air laut sebagai dampak perubahan iklim. "Tiap tahun rata-rata terjadi kenaikan 8 milimeter di pesisir Pekalongan," kata Subandono Diposaptono, Direktur Pesisir dan Lautan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Pada 2007, keluar Undang-Undang Nomor 27 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Aturan ini melarang siapa pun yang merusak ekosistem mangrove. Termasuk untuk industri, permukiman, dan kegiatan lainnya. Pemerintah kemudian menyusun konsep rehabilitasi mangrove secara terpadu. Di sisi lain, terbentuk Kelompok Kerja Mangrove Nasional.

Kelompok kerja ini memadukan beberapa kementerian, instansi pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya. Termasuk para ahli dan aktivis lembaga swadaya masyarakat. "Agar tidak terjadi tumpang-tindih program," kata Subandono, yang menjadi ketua kelompok kerja. Pada sejumlah daerah, terbentuk pula kelompok kerja mangrove.

Akhir tahun lalu, terbentuk kelompok kerja di Kabupaten Pekalongan. Visi mereka adalah, pada 2015, hutan mangrove di Pekalongan tumbuh sehat dan bermanfaat. Sedangkan misinya, antara lain, menumbuhkembangkan mangrove, mewujudkan masyarakat pesisir sadar lingkungan, serta terbentuknya insan dan kelompok pelestari mangrove. Misi terakhir adalah mewujudkan keseimbangan ekologi dan ekonomi pesisir.

Ketua Komisi Kelautan Dewan Perwakilan Rakyat Ahmad Muqowam. Menurut Hadi, pemerintah harus memberikan dukungan kepada kelompok masyarakat yang selama ini menanam dan merawat hutan mangrove.

Keseimbangan fungsi ekologi dan ekonomis juga disuarakan oleh Nyoto Santoso, mantan Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Mangrove. "Perlu pengelolaan mangrove berkelanjutan," katanya. Dia mencatat, selama sepuluh tahun terakhir, muncul kelompok-kelompok di masyarakat yang peduli. Hal ini seiring dengan program rehabilitasi dan mitigasi wilayah pesisir.

Memang pada periode 2003-2009, Kementerian Kelautan dan Perikanan melakukan penanaman hutan mangrove sebanyak 1,4 juta batang pohon. Ada 280,1 hektare wilayah pesisir di seluruh Indonesia yang telah direhabilitasi. Program yang sama dilakukan oleh LPP Mangrove dan kelompok swadaya masyarakat lainnya.

Nyoto menilai dibutuhkan penguatan kelembagaan bagi kelompok masyarakat, sehingga mereka dapat menjaga keseimbangan dua fungsi tersebut. Hutan mangrove, kata dia, tidak hanya menjadi wahana riset, tapi juga tempat budi daya dan wisata. Nyoto mencontohkan, di Thailand terdapat resort di hutan mangrove.

Memang, sejak dasawarsa 1990-an, muncul gagasan silvofishery atau sering disebut wanamina. Konsep ini memadukan kegiatan produksi perikanan dengan pelestarian hutan mangrove. Dari gagasan ini, pengelolaan tambak tidak dilakukan secara konvensional. Hal ini seiring dengan kecenderungan masyarakat di negara maju untuk mengonsumsi makanan organik, termasuk udang organik. Perairan tambak dengan silvofishery ternyata mengandung merkuri 14 kali lebih rendah dibanding tambak tanpa mangrove sama sekali.

Menurut Nyoto, kelompok mangrove di daerah perlu juga membuat keunikan pengelolaannya. Dia mencontohkan, di Pemalang, hutan mangrove-nya menghasilkan kepiting soka. Memang, selain ikan (bandeng, patin, kerapu, kakap, sidat), udang, dan kepiting, hutan mangrove jadi habitat rajungan, pohon bakau, nipah, dan lebah bakau. Tampaknya, hutan mangrove tak hanya three in one, tapi juga five in one bagi budi daya perikanan, bakau, nipah, dan lebah, sekaligus sebagai tempat riset dan wisata.

@dari berbagai sumber

Sejarah Singkat Taman Sari Gua Sunyaragi Cirebon

0 komentar




suatu Cagar Budaya Indonesia yang unik. Sunyaragi berlokasi di kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon dimana terdapat bangunan mirip candi yang disebut Gua Sunyaragi, atau Taman Air Sunyaragi, atau sering disebut sebgaai Tamansari Sunyaragi. Nama “Sunyaragi” berasal dari kata “sunya” yang artinya adalah sepi dan “ragi” yang berarti raga, keduanya adalah bahasa Sansekerta. Tujuan utama didirikannya gua tersebut adalah sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya.

Gua Sunyaragi merupakan salah satu benda cagar budaya yang berada di Kota Cirebon dengan luas sekitar 15 hektar. Objek cagar budaya ini berada di sisi jalan by pass Brigjen Dharsono, Cirebon. Konstruksi dan komposisi bangunan situs ini merupakan sebuah taman air. Karena itu Gua Sunyaragi disebut taman air gua Sunyaragi. Pada zaman dahulu kompleks gua tersebut dikelilingi oleh danau yaitu Danau Jati. Lokasi dimana dulu terdapat Danau Jati saat ini sudah mengering dan dilalui jalan by pass Brigjen Dharsono, sungai Situngkul, lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Gas, Sunyaragi milik PLN, persawahan dan menjadi pemukiman penduduk. Selain itu di gua tersebut banyak terdapat air terjun buatan sebagai penghias, dan hiasan taman seperti Gajah, patung wanita Perawan Sunti, dan Patung Garuda. Gua Sunyaragi merupakan salah satu bagian dari keraton Pakungwati sekarang bernama keraton Kasepuhan.

Tamansari Sunyaragi berasal dari dua kata yakni 'Sunya' yang dalam bahasa jawa berarti sepi atau heneng, dan 'Ragi' yang bermakna raga atau badan. Pada jaman dulu taman ini masuk dalam kekuasaan Keraton Kasepuhan Cirebon yang berfungsi untuk tempat para pembesar keraton Kasepuhan dan prajuritnya bertapa dan meningkatkan ilmu kesaktian.

Sejarah Pembangunan Gua Sunyaragi

Gua Sunyaragi dengan latar belakang PLTG dan Gunung Ciremai
Sejarah berdirinya gua Sunyaragi memiliki dua buah versi, yang pertama adalah berita lisan tentang sejarah berdirinya gua Sunyaragi yang disampaikan secara turun-temurun oleh para bangsawan Cirebon atau keturunan keraton. Versi tersebut lebih dikenal dengan sebutan versi Carub Kanda. Versi yang kedua adalah versi Caruban Nagari yaitu berdasarkan buku “Purwaka Caruban Nagari” tulisan tangan Pangeran Kararangen tahun 1720. Namun sejarah berdirinya gua Sunyaragi versi Caruban Nagari berdasarkan sumber tertulislah yang digunakan sebagai acuan para pemandu wisata gua Sunyaragi yaitu tahun 1703 Masehi untuk menerangkan tentang sejarah gua Sunyaragi karena sumber tertulis lebih memiliki bukti yang kuat daripada sumber-sumber lisan. Kompleks Sunyaragi dilahirkan lewat proses yang teramat panjang. Tempat ini beberapa kali mengalami perombakan dan perbaikan. Menurut buku Purwaka Carabuna Nagari karya Pangeran Arya Carbon, Tamansari Gua Sunyaragi dibangun pada tahun 1703 M oleh Pangeran Kararangen. Pangeran Kararangen adalah nama lain dari Pangeran Arya Carbon.

Namun menurut Caruban Kandha dan beberapa catatan dari Keraton Kasepuhan, Tamansari dibangun karena Pesanggrahan ”Giri Nur Sapta Rengga” berubah fungsi menjadi tempat pemakaman raja-raja Cirebon, yang sekarang dikenal sebagai Astana Gunung Jati. Terutama dihubungkan dengan perluasan Keraton Pakungwati (sekarang Keraton Kasepuhan Cirebon) yang terjadi pada tahun 1529 M, dengan pembangunan tembok keliling keraton, Siti Inggil dan lain-lain. Sebagai data perbandingan, Siti Inggil dibangun dengan ditandai candra sengkala ”Benteng Tinataan Bata” yang menunjuk angka tahun 1529 M.

Di Tamansari Gua Sunyaragi ada sebuah taman Candrasengkala yang disebut ”Taman Bujengin Obahing Bumi” yang menunjuk angka tahun 1529. Di kedua tempat itu juga terdapat persamaan, yakni terdapat gapura ”Candi Bentar” yang sama besar bentuk dan penggarapannya. Pangeran Kararangen hanya membangun kompleks Gua Arga Jumut dan Mande Kemasan saja.

Arsitektur Gua Sunyaragi

Menurut R. Supriyanto, mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Desain dan Seni UNIKOM yang membuat tesis berupa film dukomenter tentang Gua Sunyaragi, dilihat dari gaya atau corak dan motif-motif ragam rias yang muncul serta pola-pola bangunan yang beraneka ragam dapat disimpulkan bahwa gaya arsitektur gua Sunyaragi merupakan hasil dari perpaduan antara gaya Indonesia klasik atau Hindu, gaya Cina atau Tiongkok kuno, gaya Timur Tengah atau Islam dan gaya Eropa.

Gaya Indonesia klasik atau Hindu dapat terlihat pada beberapa bangunan berbentuk joglo. Misalnya, pada bangunan Bale Kambang, Mande Beling dan gedung Pesanggrahan, bentuk gapura dan beberapa buah patung seperti patung gajah dan patung manusia berkepala garuda yang dililit oleh ular. Seluruh ornamen bangunan yang ada menunjukkan adanya suatu sinkretsime budaya yang kuat yang berasal dari berbagai dunia. Namun, umumnya dipengaruhi oleh gaya arsitektur Indonesia Klasik atau Hindu.

Gaya Cina terlihat pada ukiran bunga seperti bentuk bunga persik, bunga matahari dan bunga teratai. Di beberapa tempat, dulu Gua Sunyaragi dihiasi berbagai ornamen keramik Cina di bagian luarnya. Keramik-keramik itu sudah lama hilang atau rusak sehingga tidak diketahui coraknya yang pasti. Penempatan [[keramik|keramik-keramik] pada bangunan Mande Beling serta motif mega mendung seperti pada kompleks bangunan gua Arga Jumut memperlihatkan bahwa gua Sunyaragi mendapatkan pengaruh gaya arsitektur Cina. Selain itu ada pula kuburan Cina, kuburan tersebut bukanlah kuburan dari seseorang keturunan Cina melainkan merupakan sejenis monumen yang berfungsi sebagai tempat berdoa para keturunan pengiring-pengiring dan pengawal-pengawal Putri Cina yang bernama Ong Tien Nio atau Ratu Rara Sumanding yang merupakan istri dari Sunan Gunung Jati.

Sebagai peninggalan keraton yang dipimpin oleh Sultan yang beragama Islam, gua Sunyaragi dilengkapi pula oleh pola-pola arsitektur bergaya Islam atau Timur Tengah. Misalnya, relung-relung pada dinding beberapa bangunan, tanda-tanda kiblat pada tiap-tiap pasholatan atau musholla, adanya beberapa pawudlon atau tempat wudhu serta bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Kabah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Hal tersebut menjelaskan bahwa gaya arsitektur gua Sunyaragi juga mendapat pengaruh dari Timur Tengah atau Islam.

Gua Sunyaragi didirikan pada zaman penjajahan Belanda sehingga gaya arsitektur Belanda atau Eropa turut mempengaruhi gaya arsitektur gua Sunyaragi. Tanda tersebut dapat terlihat pada bentuk jendela yang tedapat pada bangunan Kaputren, bentuk tangga berputar pada gua Arga Jumut dan bentuk gedung Pesanggrahan.

Secara visual, bangunan-bangunan di kompleks gua Sunyaragi lebih banyak memunculkan kesan sakral. Kesan sakral dapat terlihat dengan adanya tempat bertapa seperti pada gua Padang Ati dan gua Kelangenan, tempat sholat dan pawudon atau tempat untuk mengambil air wudhu, lorong yang menuju ke Arab dan Cina yang terletak di dalam kompleks gua Arga Jumut; dan lorong yang menuju ke Gunung Jati pada kompleks gua Peteng. Di depan pintu masuk gua Peteng terdapat patung Perawan Sunti.

Menurut legenda masyarakat lokal, jika seorang gadis memegang patung tersebut maka ia akan susah untuk mendapatkan jodoh. Kesan sakral nampak pula pada bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Kabah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Selain itu ada pula patung Haji Balela yang menyerupai patung Dewa Wisnu.

Pada tahun 1997 pengelolaan gua Sunyaragi diserahkan oleh pemerintah kepada pihak keraton Kasepuhan. Hal tersebut sangat berdampak pada kondisi fisik gua Sunyaragi. Kurangnya biaya pemeliharaan menyebabkan lokasi wisata gua Sunyaragi lama kelamaan makin terbengkelai.




Upaya Pemugaran

Tahun 1852 taman ini sempat diperbaiki karena pada tahun 1787 sempat dirusak Belanda. Saat itu, taman ini menjadi benteng pertahanan. Tan Sam Cay, seorang arsitek Cina, konon diminta Sultan Adiwijaya untuk memperbaikinya. Namun, arsitek Cina itu ditangkap dan dibunuh karena dianggap telah membocorkan rahasia gua Sunyaragi kepada Belanda. Karena itu, di kompleks Taman Sunyaragi juga terdapat patok bertulis ”Kuburan Cina”.

Pemugaran Tamansari Gua Sunyaragi pernah dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1937-1938. Pelaksanaannya diserahkan kepada seorang petugas Dinas Kebudayaan Semarang. Namanya, Krisjman. Ia hanya memperkuat konstruksi aslinya dengan menambah tiang-tiang atau pilar bata penguat, terutama pada bagian atap lengkung. Namun terkadang ia juga menghilangkan bentuk aslinya, apabila dianggap membahayakan bangunan keseluruhan.

Seperti terlihat di Gua Pengawal dan sayap kanan-kiri antara gedung Jinem dan Mande Beling.
Pemugaran terakhir dilakukan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala, Direktorat Jenderal Kebudayaan, yang memugar Tamansari secara keseluruhan dari tahun 1976 hingga 1984.

Sejak itu tak ada lagi aktivitas pemeliharan yang serius pada kompleks ini. Bangunan tua ini hingga kini masih ramai dikunjungi orang, karena letaknya persis di tepi jalan utama. Tempat parkir lumayan luas, taman bagian depan mendapat sentuhan baru untuk istirahat para wisatawan.

Terdapat juga panggung budaya yang digunakan untuk pementasan kesenian Cirebon. Namun keadaan panggung budaya tersebut kini kurang terurus, penuh dengan tanaman liar. Kolam di kompleks Taman Sari pun kurang terurus dan airnya mengering.
Taman yang dibangun pada tahun 1703 M oleh Pangeran Kararangen (Pangeran Kararangen adalah nama lain dari pangeran Arya carbon) ini tercatat telah 3 kali mendapat pemugaran dan perbaikan. Pemugaran pertama dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Adiwijaya tahun 1852 setelah taman ini sebelumnya dihancurkan oleh Belanda. Konon untuk perbaikan ini Sultan menunjuk 2 warga Cina bernama Chay Khong dan Sam Pho Tia Jin sebagai arsiteknya, dan demi mencegah kebocoran yang tidak perlu kepada pihak belanda konon kedua arsitek ini kemudian disekap dan dibunuh. Bukti tentang arsitek Cina ini adalah dengan adanya sebuah kuburan Cina di dalam area Taman Air Gua Sunyaragi ini, tepatnya di samping sebuah pohon beringin yang sekarang telah berusia ratusan tahun.

Pemugaran kedua dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1937-1938 dan sebagai pelaksananya adalah seorang petugas Dinas Kebudayaan Semarang. Namanya, Krisjman. Dan pemugaran terakhir terjadi pada tahun 1976 hingga 1984 yang dilakukan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala, Direktorat Jenderal Kebudayaan. Sejak itu tak ada lagi aktivitas pemeliharan yang serius pada kompleks ini.

Taman sari ini sendiri dibangun karena menurut kitab Caruban Kandha dan beberapa catatan dari Keraton Kasepuhan, Pesanggrahan Giri nur Sapta Rengga berubah fungsi menjadi tempat pemakaman raja-raja Cirebon, yang sekarang dikenal sebagai Astana Gunung Jati, dan juga adanya perluasan Keraton Pakungwati yang terjadi pada tahun 1529 M, dengan pembangunan tembok keliling keraton, Siti Inggil dan lain-lain. Sebagai perbandingam, Siti Inggil dibangun dengan ditandai candra sengkala Benteng Tinataan Bata yang menunjuk angka tahun 1529 M.

Di Tamansari Gua Sunyaragi ada sebuah taman Candrasengkala yang disebut Taman Bujengin Obahing Bumi yang menunjuk angka tahun 1529. Di kedua tempat itu juga terdapat persamaan, yakni terdapat gapura 'Candi Bentar' yang sama besar bentuk dan penggarapannya. Dijelaskan, Pangeran Kararangen hanya membangun kompleks Gua Arga Jumut dan Mande Kemasan saja.

Secara garis besar Taman sari Gua Sunyaragi terbagi menjadi 12 bagian yang masing-masing bagiannya memiliki fungsi sendiri-sendiri. Di bawah ini Portal Cirebon secara ringkas akan menguraikan bagian-bagian tersebut beserta seberapa penting fungsi dan kegunaannya.


1. Bangsal jinem
Bangsal Jinem adalah tempat di mana pada masa lalu Sultan Kasepuhan memberikan wejangan-wejangan kepada para pengikutnya. Di tempat ini pula prajurit-prajurit keraton Kasepuhan berlatih ilmu kanuragan yang di awasi langsung oleh Sultan sendiri.

2. Goa pengawal
Goa Pengawal seperti juga namanya adalah tempat yang khusus diperuntukan bagi para Pengawal Sultan beristirahat. Di tempat inilah para Pengawal sultan di masa lalu berkumpul dan sekaligus bersiaga bilamana suatu-waktu Sultan yang mereka kawal mendapat ancaman.

3. Kompleks Mande Kemasan
Komplek Mande Kemasan yang sekarang telah hancur ini pada masa lalu berfungsi sebagai tempat disimpannya berbagai senjata keraton

4. Gua Pandekemasang
Gua Pandekemasang adalah sebuah tempat yang dikhususkan untuk membuat berbagai jenis senjata untuk keperluan berperang melawan musuh-musuh keraton. Di tempat ini para empu dan petinggi keraton sering berkumpul untuk merencanakan senjata apa saja yang harus di buat demi mempertahankan keraton dari ancaman luar. Karena pentingnya wilayah ini pada masa lalu tempat membuat senjata tajam ini selalu mendapat penjagaan ketat dari para pengawal keraton.

5. Gua Simanyang
Gua Simanyang adalah sebuah gua yang berada di depan wilayah taman air Sunyaragi mengingat fungsinya sebagai pos penjagaan dan garda depan dari ancaman dunia luar.

6. Gua Langse
Gua Lengse adalah sebuah tempat yang khusus diperuntukan kepada Raja dan permaisurinya bersantai. Karena tempat ini hanya diperuntukan untuk raja dan permaisurinya maka tempat inilah satu-satunya tempat yang dibuat dengan begitu indah agar raja ketika memasuki tempat ini bisa merasa sangat nyaman dan melupakan sejenak kepenatannya memerintah

7. Gua Peteng
seperti namanya Gua Peteng yang berarti Gua Gelap, di tempat ini tidak disediakan sama sekali penerangan dan memang difungsikan sebagai tempat nyepi untuk mendapatkan kekebalan tubuh dan sebagainya.

8. Gua Arga Jumud
gua Arga Jumud fungsinya mirip dengan Gua Langse, hanya bedanya untuk Gua Arga Jumud ini dikhususkan bagi para petinggi keraton baik ketika bersantai maupun ketika mengadakan rapat-rapa penting dalam hal menyangkut keraton

9. Gua Padang Ati
Gua Padang Ati adalah sebuah gua yang berfungsi untuk mersemedi agar memiliki kelapangan dada, keikhlasan dan kecerdasan seperti yang dimaksud oleh nama gua itu sendiri yaitu padang ati yang artinya terang hati.

10. Gua Kelanggengan
Gua Kelanggengan adalah sebuah tempat bersemedi agar mendapat kelanggengan jabatan.

11. Gua Lawa
Gua Lawa adalah tempat khusus kelelawar. Selain sebagai tempat khusus kelelawar Portal Cirebon tidak mendapat informasi mengenai kegunaan lain dari gua ini. Mungkin ada diantara pembaca yang mengetahuinya?

12. Gua Pawon
Seperti namanya yang dalam bahasa Cirebon berarti dapur maka gua ini adalah sebuah dapur untuk membuat dan menyimpan makanan

Sejarah Pedati Gede Pekalangan

1 komentar



Sebagai warga Pekalangan tentunya alangkah baiknya ikut serta dalam mempromosikan potensi peninggalan didaerah tempat tinggalnya, dan di RW.05 Pekalangan Selatan Kel. Pekalangan Kec. Pekalipan Kota Cirebon saja ada 2 (dua) peninggalan bersejarah dari zaman awal-awal pendirian Cirebon yang sampai saat ini masih terawat baik, seperti Masjid Baitul Karim (Syek Karim atau Kigede Pedati) dan Pedati Gede.

Pedati Gede Pekalangan, itulah nama dari pedati yang bisa jadi merupakan pedati atau kereta terbesar hingga saat ini di Indonesia bahkan bisa jadi di dunia. Kereta ini memang punya ukuran yang tak wajar yakni dengan panjang total 8,6 meter, tinggi 3,5 meter dan lebar 2,6 meter. Kereta ini berjalan di atas enam roda ukuran besar dengan diameter 2 meter dengan panjang jari-jari roda sepanjang 90 cm dan dua roda kecil yang berdiameter 1,5 meter dengan panjang jari-jari roda 70 cm. Tidak hanya besarnya ukuran yang membuat pedati ini begitu istimewa tapi juga teknologi yang terdapat dalam kereta itu dinilai oleh banyak pengamat sebagai kereta yang melampaui teknologi zamannya. Teknologi itu bisa dilihat dari terdapatnya semacam as terbuat dari kayu bulat berdiameter 15 cm yang menghubungkan antar roda melalui poros yang ada di tiap-tiap roda tersebut dengan pelumas dari getah pohon damar di tiap pertemuan antara roda tersebut dengan poros agar disamping pertemuan antara as dan porosnya tetap lancar juga membuat as tidak cepat aus.

Satu hal lainnya yang mengundang decak kagum adalah sistem rangkaian dari Pedati Gede Pekalangan ini menggunakan sistem knock down layaknya kereta api hingga jika pada saat itu yang diangkut tak cukup hanya dengan menggunakan pedati ini maka digunakan pedati-pedati lainnya dengan cara mencangkolkan pedati tambahan itu dibelakangnya dan ditarik dengan tenaga kerbau bule yang diyakini memiliki tenaga di atas rata-rata kerbau biasa pada umumnya.

Berdasarkan catatan dan dipercaya oleh beberapa ahli dibuat pada tahun 1371 ketika Cirebon masih berbentuk katumenggungan dan dipimpin oleh Pangeran Cakrabuwana. Dan pedati ini masih tetap digunakan hingga jaman kesultanan Sunan Gunung Jati di abad ke-15. Salah satu peran penting pedati ini adalah ketika pembangunan Masjid Agung Sang Ciptarasa tahun 1480 sebagai alat angkut bangunan dan juga sebagai alat transfortasi ketika menginfasi Sakiawarman yang bersembunyi di desa Girinata (kini wilayah Palimanan). Sakiawarman merupakan adik kandung Prabu Purnawarman yang merupakan Kerajaan Tarumanegara di daerah Cisadane, Bogor, yang memberontak kepada kakaknya tapi karena gagal kemudian melarikan diri ke Desa Girinata. Karena Girinata waktu itu merupakan wilayah Kerajaan Indraprasta, maka Purnawarman meminta bantuan kepada Wiryabanyu, Raja Indraprasta untuk menumpas para pemberontak ini. Dan karena Kerajaan Indraprasta dan Kesultanan Cirebon waktu itu bersahabat dengan Kerajaan Tarumanegara maka Kesultanan Cirebon pun ikut mengirimkan pasukannya berikut dengan alat-alat logistiknya menggunakan pedati gede ini untuk kemudian ikut membantu kerajan tersebut menumpas para pemberontak yang bersembunyi di Girinata. Kontur tanah Desa Girinata yang becek dan berbukit-bukit membuat Pasukan Cirebon sangat terbantu dengan adanya pedati gede Pekalangan ini. Disamping itu, tak hanya sebagai alat angkut, postur badan pedati gede ini yang sangat besar dan kokoh pun bisa dijadikan sebagi benteng dikala pasukan musuh menyerang.

bahkan menurut Juru Kunci (Kuncen) Pedati Gede Ibu Sayi, bahwa pada saat pendirian Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Keraton Kasepuhan pun, Pedati Gede ini turut andil besar dalam mengankut keperluan bangunan masjid tersebut.
Konon diceritakan bahwa panjang sebenarnya Pedati Gede ini mencapai 15 meter, yang terdiri dari 2 pasang roda besar dan 4 pasang roda kecil, panjangnya roda ini dimampaatkan untuk mengankut kayu-kayu besar dan panjang untuk pendirian Masjid Agung tersebut.

Namun sayang, karena lokasi penyimpanan yang terbatas maka jumlah roda yang 6 pasang itu hanya dapat masuk sebanyak 4 pasang roda yang terdiri dari 2 pasang roda besar dan 2 pasang roda kecil. saat ini tempat penyimpanan pedati gede sudah bagus yaitu beralaskan keramik dengan kerangka atap menggunakan rangkaian baja ringan yang dana renovasinya di dapat dari APBD Kota Cirebon yang rutin hampir setiap tahun mengalir ke situs ini.

Situs Pedati Gede Pekalangan sanggat banyak didatangi pengunjung pada saat malam jumat kliwon, mereka ada yang sekedar doa atau melihat-melihat hasil maha karya tokoh cirebon itu.
Hampir setiap tahun di lokasi situs selalu dilaksanakan Syukuran Sedekah Bumi, berbagai acara menarik di selenggarakan pada acara ini, dari mulai Tahlil yang wajib diikuti oleh siapapun yang jadi lurah di Pekalangan juga banyak tokoh-tokoh lain pada acara talilan tersebut, sementara pementasan wayang kulit biasanya dilaksanakan dari pagi hingga pagi lagi, dengan lakon utamanya " Kebo Andanu " nama kerbau Bule yang menarik Pedati tersebut.

banyak cerita menarik yang terjadi di pekalangan andai saja sedekah bumi yang rutin tahunan ini tidak diselenggarakan, makanya dengan azas gotong royong masyarakat setempat berupaya mengadakannya guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Nasib Sekolah Swasta Tak Kebagian Siswa Baru

0 komentar

Harapan fairness kembali pupus sudah. Pendidikan swasta kembali harus menangis terkena dampak langsung dari tidak konsistennya pihak-pihak tidak bertanggung jawab pelanggar Perwali Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini. Para guru sekolah swasta yang harusnya bisa sedikit tersenyum lebar, akhirnya masam karena siswa yang dinanti tidak kunjung datang.

BERBEDA dengan hirup pikuk di sekolah-sekolah negeri yang tengah sibuk menyiapkan rencana anggaran dan pendapatan belanja sekolah (RAPBS), suasana di sekolah swasta sampai hari kemarin masih menunggu murid pendaftar. Kepala SMK Taman Mada Ekonomi Taman Siswa, Drs Sugiarto mengungkapkan kondisi di sekolanya sangat memilukan. “Sampai dengan kemarin, siswa yang mendaftar baru 20 anak. Kelas sekarang blong, kursi pun masih banyak yang kosong,” ujarnya, Selasa (13/7).
Sebagian besar dari pendaftar memiliki latar belakang ekonomi di bawah standar. Di sisi lain, Dinas Pendidikan Kota Cirebon memberikan bantuan kepada sekolah berbasis jumlah siswa. Itu artinya dana operasional yang diterima bisa dipastikan lebih sedikit. “Lalu bagaimana dengan biaya operasional lainnya?” ucapnya saat ditemui koran ini di sekolah.
Sugiarto mengandaikan jika Perwali PPDB 15/2010 tidak mandul dan tidak sekadar aksesori ceritanya mungkin tidak begini. Sekolah negeri masih tidak bisa dikontrol, tidak lagi konsisten dalam menerima siswa 40 per kelas dengan kuota rombongan belajar (rombel) yang telah diumumkan Disdik sebelum masa PPDB dimulai. Juga akibat banyak cara bisa ditempuh untuk memasukkan siswa ke sekolah negeri, bisa lewat partai, LSM atau yang lainnya.
“Sekarang keadaanya sudah seperti ini. Tolong tegakkan, berlakukan sanksi yang ada di Perwali bagi mereka yang melanggar. Kalau tidak, buat apa ada Perwali? Berikan sanksi tegas,” ucapnya pria berkumis ini.
Cerita tidak jauh beda juga dialami SMP Inklusi Sada Ibu. Saat ini sekolahnya baru menerima 4 siswa. Kepala SMP Sada Ibu BO Heriyanto SPd menjelaskan hal lain yang mengakibatkan kosongnya kelas sekolah swasta adalah sikap orang tua murid yang negeri minded. Maksudnya memaksakan anak untuk sekolah ke sekolah negeri dengan menghalalkan segara cara. Menabrak aturan, bahkan memaksakan kemampuan anak.
“Jangan pernah memaksakan kemampuan anak. Ini soal pendidikan, semuanya harus diawali dengan cara yang terdidik. Terlebih bagi mereka anak yang berkebutuhan khusus,” tukasnya di temui di sekolah. Heriyanto menyampaikan, dengan kondisi 4 siswa 8 guru, praktis biaya operasional kembali menyita perhatian pengelola sekolah.
Ungkapan keprihatinan juga dikemukakan Kepala SMA Taman Siswa Drs Supandan. Dia mengkritisi tumpulnya perwali saat dihadapkan dengan penerapan di lapangan. Kemudian perwali hanya melahirkan primordialisme sempit. “Tega kah pemerintah kota melihat kami begini. Di saat sekolah negeri menari-nari dengan banyaknya jenis dana yang diterima, sekolah swasta harus mengemis-ngemis,” tandasnya.
Supandan menyebutkan sejumlah jenis dana yang diterima sekolah negeri adalah dana bantuan masyarakat, dana BOS Provinsi, BOS Pusat, BOS Pemerintah Kota. Membuat akhirnya aliran uang begitu berlimpah di sekolah negeri. Kesejahteraan guru sekolah negeri pun semakin mudah jika dikaitkan dengan syarat sertifikasi jam mengajar 24 jam.
“Sedang kami sedikit. Bagaimana bisa memenuhi kewajiban jam mengajar? Kami prihatin, tapi kami lemah. Kami hanya bisa berdoa, mudah-mudahan guru-guru di sekolah swasta bisa terus ikhlas mengamalkan ilmunya, mendidik para siswa,” uangkapnya.
Dia mempertanyakan peran sejumlah institusi yang menyoroti pendidikan seperti Komisi C DPRD, Dewan Pendidikan, Badan Musyawarah Pendidikan Swasta, juga PGRI. “Perwali hanya aksesori. Kami prihatin, padahal Pak Walinya sendiri juga alumni sekolah swasta,” ucapnya. (suhendrik)

Short URL: http://radarcirebon.com/?p=273

Mau Pinter Itu Ternyata MAHAL...

0 komentar



Ternyata bukan hanya wong cilik yang mengeluhkan kian melangitnya biaya pendidikan di kota ini. Karena dianggapnya sudah tidak sanggup lagi menahan beban, sejumlah PNS di lingkungan Pemerintah Kota Cirebon sangat risau akan kelangsungan nasib pendidikan anaknya karena mahalnya biaya.

Berikut liputan SUHENDRIK, Cirebon yang menanyakan langsung pada saat PPDB :

“SAYA sudah tidak tahu lagi harus mengeluhkan ini ke siapa. Kami yang sudah jelas-jelas kata orang pejabat saja, melihat biaya pendidikan sekarang semakin tidak rasional,” ujar PNS yang keberatan namanya dikorankan, Selasa (13/7).
Dia menceritakan anaknya saat ini bersekolah di SMAN 1 Kota Cirebon. Meski sudah memilih besaran sumbangan terkecil untuk sekolah, tetap saja sumbangan yang terkecil itu nilainya Rp7 juta. Belum lagi SPP yang harus dipenuhi setiap bulannya sebesar Rp300 ribu. Sementara 3 anak yang besekolah 3, dirata-ratakan Rp1 juta saja untuk biaya sekolah.

Belum lagi, kata dia, yang namanya PNS hampir pasti memiliki pinjaman di Bank Jabar Banten, artinya setiap bulan harus membayar cicilan. Jika dialokasikan untuk melunasi pinjaman sebesar Rp1 juta, maka pengeluaran pasti setiap bulannya adalah Rp2 juta. Sementara gaji resmi bulanan yang diterima sebesar Rp3 juta. Walhasil, tinggal Rp1 juta yang tersisa dialokasikan untuk biaya makan dan operasional rumah tangga seluruh anggota keluarga selama satu bulan.

“Cukup tidak cukup Rp1 juta yang tersisa digunakan untuk makan dan bayar kebutuhan lainnya, seperti bayar rekening air, listrik, telepon, transport ke kantor. Coba begini nasib kami yang menerima hanya gaji formal,” ungkap PNS yang sehari-hari bergelut dengan dunia pengawasan dan audit ini saat dijumpai di lapangan Kejaksan.
Dia memohon kepada para pembuat kebijakan pendidikan di kota ini untuk bisa mendengarkan keluhan. Karena yang bersuara ini adalah orang yang bekerja sebagai PNS, artinya berpendapatan jelas bukan serabutan, terlebih yang serabutan. “Buat kami yang gajinya jelas saja berat apalagi para buruh kan. Tolong dengar. Sebelum sekolah bersama dengan komite sekolah memutuskan ketentuan biaya,” ungkapnaya.
Senada diungkapkan juga PNS memiliki jabatan struktural di lingkungan Pemkot. Sebetulnya meski menjadi bagian dari birokrasi bukan berarti setuju dengan kebijakan yang diambil rekannya sesama birokrat di lingkungan pendidikan. Namun terkadang karena satu korps menyulitkan keinginan hati disuarakan di dalam, padahal dampaknya sangat terasa bagi pribadi saat biaya sekolah anak semakin tinggi.

“Saya bingung. Saya hanya bisa bicara dengan wartawan. Biaya pendidikan semakin tidak karuan, belum sekolah saja disodori biaya ini itu,” katanya yang menyekolahkan anaknya di SMPN 4 Kota Cirebon ini.

Bagi PNS yang memilih untuk menerima pendapatan seadanya, ucap dia, maka biaya sekolah sekarang sudah sangat bersinggungan tajam dengan biaya hidup. “Sungguh pahit bila melihat realita di internal birokrasi. Kami saja yang sesama PNS sudah sangat berat membiayai pendidikan anak,” papar pejabat pemegang wilayah administratif ini.
Terpisah, guru SD I Jagasatru Titin Sumartini AMa Pd, menegaskan siswa di sekolahnya tidak dipungut biaya operasional. Sehingga tidak beralasan apabila ada anak yang keluar dari sekolah karena tidak mampu. Justru yang ada, seperti dialami Roni dan diberitakan di koran kemarin, dia keluar bukan karena biaya, tapi minder dengan teman yang lain karena belum bisa membaca meski sekarang telah duduk di bangku kelas 3.
“Di SD I Jagasatru tidak dipungut biaya. Dan Roni keluar dari sekolah bukan karena biaya tapi minder belum bisa membaca. Faktanya sekarang Roni sudah bersekolah lagi di sekolah kami,” ungkapnya saat datang ke Graha Pena, Kantor Redaksi Radar Cirebon. (*)

Short URL: http://radarcirebon.com/?p=276

Keraton Kanoman Pusat Peradaban Kesultanan Cirebon

0 komentar Rabu, 14 Juli 2010



Keraton Kanoman adalah pusat peradaban Kesultanan Cirebon, yang kemudian terpecah menjadi Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon. Kebesaran Islam di Jawa Barat tidak lepas dari Cirebon. Sunan Gunung Jati adalah orang yang bertanggung jawab menyebarkan agama Islam di Jawa Barat, sehingga berbicara tentang Cirebon tidak akan lepas dari sosok Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati juga meninggalkan jejaknya yang hingga kini masih berdiri tegak, jejak itu bernama Kraton Kanoman. Keraton Kanoman masih taat memegang adat-istiadat dan pepakem, di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal,seminggu setelah Idul Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon Utara. Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya dengan syiar agama Islam yang giat dilakukan Sunan Gunung Jati, yang juga dikenal dengan Syarif Hidayatullah.

Kompleks Keraton Kanoman yang mempunyai luas sekitar 6 hektar ini berlokasi di belakang pasar Di Kraton ini tinggal sultan ke dua belas yang bernama Raja Muhammad Emiruddin berserta keluarga. Kraton Kanoman merupakan komplek yang luas, yang terdiri dari dua puluh tujuh bangunan kuno. salah satunya saung yang bernama bangsal witana (awi-awite ana) yang merupakan cikal bakal Kraton yang luasnya hampir lima kali lapangan sepakbola.

Di keraton ini masih terdapat barang barang Sunan Gunung Jati, seperti dua kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yang masih terawat baik dan tersimpan di museum. Bentuknya burak, yakni hewan yang dikendarai Nabi Muhammad ketika ia Isra Mi'raj. Tidak jauh dari kereta, terdapat bangsal Jinem, atau Pendopo untuk Menerima tamu, penobatan sultan dan pemberian restu sebuah acara seperti Maulid Nabi. Dan di bagian tengah Kraton terdapat kompleks bangunan bangunan bernama Siti Hinggil.

Hal yang menarik dari Keraton di Cirebon adalah adanya piring-piring porselen asli Tiongkok yang menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon. Tak cuma di keraton, piring-piring keramik itu bertebaran hampir di seluruh situs bersejarah di Cirebon. Dan yang tidak kalah penting dari Keraton di Cirebon adalah keraton selalu menghadap ke utara. Dan di halamannya ada patung macan sebagai lambang Prabu Siliwangi. Di depan keraton selalu ada alun alun untuk rakyat berkumpul dan pasar sebagai pusat perekonomian, di sebelah timur keraton selalu ada masjid

Secara geografis letak Keraton Kanoman berada di Kelurahan Pekalipan Kec. Pekalipan Kota Cirebon, pusat keramaian Keraton manakala pada peringatan hari Maulid Nabi Muhammad SAW atau Muludan, berbagai acara ritual yang di kemas dalam Panjang Jimat turut menyemarakan hari mauludan tersebut, bahkan para pedagang dan pengelola mainan anak-anak turut serta menjejali perayaan tersebut.

Memasuki Keraton Kanoman sungguh mempunyai aura tersendiri dibanding dengan keraton keraton lainnya, karena disinilah pertama kalinya terdapat bangunan atau disebut witana, Bangsal Witana yang selalu menebarkan bau wewangian bunga kenanga selalu menjadi tempat yang sangat sakral, bahkan tak jarang tempat ini menjadi tempat itikap bagi orang-orang yang menginkan sebuah perubahan dalam hidupnya.

Mengungkap Tabir Caruban Nagari

0 komentar




PANORAMA Hindia Belanda yang bergunung-gunung, berbukit, ditambah hamparan sawah hijau menguning menjadi salah satu hal yang membuat warga Belanda terkagum-kagum. Lukisan alam itu banyak mengisi album keluarga Belanda yang pernah menjalani hidup di salah satu tempat di Nusantara ini.

Sebut saja WG Peekema asal Den Haag dan Nyonya Fisser-Schefer dari Hilversum. Nyonya Peekema menyimpan foto panorama Gunung Ciremai di tahun 1920. Dalam koleksi foto tua di KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal en Volkenkunde/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Carribbean studies) atau Lembaga Studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda.

Dalam kisah tentang asal muasal Cirebon dikatakan, Cirebon berasal dari bahasa Sunda, Cai dan Rebon, air dan udang. Kisah lain menyebutkan, Cirebon berasal dari kata Sarumban kemudian berubah menjadi Caruban atau campuran karena Cirebon sebagai kota pelabuhan menjadi tempat bercampurnya suku Jawa, Sunda, Arab, Melayu, dan China. Caruban berubah lagi menjadi Carbon, Cerbon, dan Cirebon. Kota ini berdiri sekitar 1440-an.

Sementara itu Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels mengisahkan, Cirebon muncul dalam sejarah Indonesia sejak masuknya Islam yang dibawa pedagang pribumi. Di masa Hindu, peranan Cirebon kurang penting. Cirebon tak bisa lepas dari kisah Sunan Gunungjati alias Syeh Maulana. Pram mengingat tahun 1946 yang diharapkan tak terulang lagi di mana gaji sebagai letnan dua hanya diterima separuh dari yang ditetapkan pemerintah. Korupsi sudah mulai merajalela, begitu kata Pram.

Sejak tahun 1678, di bawah perlindungan Banten, Kasultanan Cirebon terbagi tiga, yaitu pertama Kesultanan Kasepuhan, dirajai Pangeran Martawijaya, dikenal dengan Sultan Sepuh I. Kedua Kesultanan Kanoman, dikepalai oleh Pangeran Kertawijaya atau beken sebagai Sultan Anom I dan ketiga Panembahan yang dikepalai Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Cirebon I.

Kota Cirebon tumbuh perlahan-lahan, demikian catatan Nina H Lubis dalam Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat, pada tahun 1858, di Cirebon terdapat 5 toko eceran dua perusahaan dagang. Pada tahun 1865, tercatat ekspor gula sejumlah 200.000 pikulan (kuintal), dan pada tahun 1868 ada tiga perusahaan Batavia yang bergerak di bidang perdagangan gula membuka cabang di Cirebon. Pada tahun 1877 Cirebon sudah memiliki pabrik es. Pipa air minum yang menghubungkan sumur-sumur artesis dengan perumahan dibangun pada tahun 1877.

Bagi yang tertarik menengok peninggalan Cirebon dan Kuningan, Komunitas Historia Indonesia bekerja sama dengan Cirebon Heritage Society - Kendi Pertula, Pemerintah Kota Cirebon, Pemerintah Kabupaten Cirebon, dan Pemerintah Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat akan menggelar Caruban Nagari Heritage Trails: Menelusuri Sejarah, Menguak Jejak Warisan Budaya Caruban Nagari.

Keraton Kasepuhan Lambang Kejayaan Cirebon

1 komentar


Salah satu situs bersejarah yang layak dikunjungi di Cirebon adalah dua istana bersaudara, yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Berdasarkan catatan sejarah, ketika Sunan Gunung Jati masih hidup, Cirebon hanya memiliki satu keraton. Namun, setelah ia wafat, keraton berhasil dipecah menjadi dua oleh Belanda.

Memasuki kawasan Keraton Kasepuhan, pengunjung akan disambut sebuah gerbang yang terbuat dari bata merah bertingkat. Bagian depan keraton ini biasanya dinamakan dengan Siti Inggil atau tanah tinggi, yang menghadap langsung ke arah lapangan tempat dulunya pasukan keraton berkumpul setelah melewati Siti Inggil yang berbentuk gerbang dan pagar panjang.

Di Siti Inggil ini ada lima bangunan tanpa dinding beratap sirap, yaitu Mande Pandawa Lima, yang bertiang lima dan melambangkan Rukun Islam, untuk duduk pegawai raja. Kemudian ada Mande Jajar dengan tiang tengah yang berukir sebanyak enam melambangkan Rukun Iman. Seluruhnya ada 20 tiang yang menggambarkan sifat ketuhanan. Digunakan untuk tempat duduk raja saat melihat alun-alun dan bila sedang mengadili terdakwa,

Bangunan lain adalah Mande Semar Tinandu yang bertiang dua, melambangkan Kalimat Syahadat. Berfungsi sebagai tempat duduk penasehat raja. Selanjutnya ada Mande Karesmen yang berfungsi untuk membunyikan Gamelan Sekaton pada tanggal 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah, terakhir adalah Mande Pengiring untuk tempat duduk prajurit pengiring raja dan tempat hakim menyidang terdakwa.

Kejayaan

Tanda-tanda kejayaan keraton di zamannya bisa dilihat dari banyaknya keramik China dari Dinasti Ming yang ditempelkan pada dinding, mulai gerbang paling depan hingga bagian dalam keraton. "Keramik China melambangkan hubungan Keraton Cirebon dengan China dulunya sangat baik. Bahkan, salah satu istri Sunan Gunung Jati adalah putri China," kata pemandu di Keraton Kasepuhan, Sugiman.

Ia menjelaskan, Keraton Kasepuhan dibangun 1529 sebagai perluasan dari keraton tertua di Cirebon, Pakungwati. Keraton itu dibangun oleh Pangeran Cakrabuana yang juga pendiri Cirebon pada 1445. Kejayaan keraton ini juga terlihat dari keberadaan sebuah bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang ada dalam kompleks Keraton Kasepuhan. Masjid itu dibangun 1549.

Teknologi

Di sebelah timur Taman Bunderan Dewan Daru berdiri bangunan untuk tempat penyimpanan kereta pusaka yang dinamai Kereta Singa Barong. Kereta ini dibuat pada tahun 1549 atas prakarsa Panembahan Pakungwati I.

Bentuknya, mengambil pola mahluk prabangsa. Kereta ini merupakan perwujudan dari tiga binatang menjadi satu, yaitu belalai gajah melambangkan persahabatan dengan India yang beragama Hindu; kepala naga melambangkan persahabatan dengan China yang beragama Budha; sedangkan sayap dan badan mengambil dari buroq melambangkan persahabatan dengan Mesir yang beragama Islam. "Dari ketiga kebudayaan itu digambarkan dengan Tri Sula yang berarti tajamnya alam pikiran manusia,” ujar Sugiman.

Kereta ini dahulunya digunakan untuk upacara kirab keliling Kota Cirebon setiap tanggap 1 Syura dengan ditarik oleh empat ekor kerbau bule. Tapi sejak 1942, kereta ini tidak dipergunakan lagi dan hanya dikeluarkan tiap 1 Syawal untuk dimandikan. "Kereta kencana Singa Barong ini telah memiliki teknologi yang menarik, seperti jari-jari roda dibuat melengkung ke dalam agar air dan kotoran tidak masuk ke dalam kereta," jelasnya.

Masjid Merah Panjunan

0 komentar



Dilihat dari luar, Masjid Merah Panjunan sangat menarik perhatian, terutama bagi orang yang baru pertama kali datang ke Cirebon, Jawa Barat. Warna merah bata mendominasi keseluruhan bangunan yang didirikan pada tahun 1480 ini.

Masjid Merah Panjunan terletak di Kampung Panjunan, kampung pembuat jun atau keramik porselen. Bangunan ini didirikan oleh Pangeran Panjunan yang adalah murid Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Songo (Sembilan Wali), penyebar Islam di Jawa.

Dalam sebuah catatan sejarah yang mengacu pada Babad Tjerbon, nama asli Pangeran Panjunan adalah Maulana Abdul Rahman. Dia memimpin sekelompok imigran Arab dari Baghdad. Sang pangeran dan keluarganya mencari nafkah dari membuat keramik. Sampai sekarang, anak keturunannya masih memelihara tradisi kerajinan keramik itu, meski kini lebih untuk tujuan spiritual ketimbang komersial.

Catatan tersebut juga menyatakan, selain untuk tempat beribadah, masjid ini juga dipakai Wali Songo untuk berkoordinasi dalam menyiarkan agama Islam di daerah Cirebon dan sekitarnya. Masjid yang konon dibikin hanya dalam waktu semalam ini lebih mirip surau karena ukurannya kecil. Kemeriahan memuncak pada Ramadhan, ketika orang, baik dari dalam maupun luar kota, berburu takjil, hidangan buka puasa, berupa gahwa alias kopi jahe khas Arab.

Akan banyak orang bertanya-tanya mengapa di masjid ini juga penuh dengan ornamen bernuansa Tionghoa. Misalnya, piring-piring porselen asli Tiongkok yang menghias penghias dinding. Ada sebuah legenda bahwa keramik Tiongkok itu merupakan bagian dari hadiah kaisar China ketika Sunan Gunung Jati menikahi putri sang kaisar yang bernama Tan Hong Tien Nio. Adanya hubungan dengan Tiongkok sejak zaman Wali Songo itu juga ditunjukkan dengan keberadaan Vihara Dewi Welas Asih, sebuah wihara kuno dengan dominasi warna merah yang berdiri tak jauh dari masjid.

Perpaduan Arab dan Tiongkok ini tak lain terjadi karena Cirebon, yang pernah bernama Caruban pada masa silam, adalah kota pelabuhan. Lantaran lokasi masjid itu di kawasan perdagangan, sungguh tak aneh jika Masjid Merah—semula mushala Al-Athyah— tumbuh dengan berbagai pengaruh, seperti juga semua keraton yang ada di Cirebon.

Bangunan lama mushala itu berukuran 40 meter persegi saja, kemudian dibangun menjadi berukuran 150 meter persegi karena menjadi masjid. Pada tahun 1949, Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati) membangun pagar Kutaosod dari bata merah setebal 40 cm dengan tinggi 1,5 m untuk mengelilingi kawasan masjid.

Keunikan lain dari struktur bangunan adalah bagian atap yang menggunakan genteng tanah warna hitam dan hingga kini masih dijaga keasliannya. Namun sayangnya, beberapa keramik yang ada di tembok pagar ada yang sudah dicukil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, terutama yang ada pada bagian pagar temboknya.

Pada salah satu sisi masjid terdapat sebuah makam yang diberi pagar, tetapi tidak jelas makam siapa. Menurut pengurus masjid, Nasruddin (35), ada dua versi, versi pertama ada yang mengatakan seorang yang cukup disegani di daerah Pajunan, sementara versi lain mengatakan, yang dikuburkan di tempat itu adalah benda-benda yang pernah dipakai untuk membangun masjid. "Kami sendiri tidak pernah membongkar makam tersebut. Pendiri masjid ini tidak dimakamkan di sini," ungkapnya.

Di sini bisa kita temui sumur sedalam setidaknya tiga setengah meter yang menjadi sumber mata air untuk keperluan masjid dan masyarakat di sekitarnya.

Akulturasi budaya

Dalam berbagai tulisan sejarah, dijelaskan bahwa proses akulturasi di Indonesia sudah terjadi semenjak masa pra-Islam, yaitu Buddha dan Hindu. Agama Hindu datang ke Indonesia dibawa oleh bangsa India. Setelah itu, datanglah agama Islam. Agama-agama tersebut kemudian bertemu dan mengadakan kontak secara terus-menerus. Akhirnya, terjadilah akulturasi di antara ketiga agama tersebut.

Wujud akulturasi tersebut dapat dilihat dari unsur budaya yang ada pada arsitektur Masjid Merah Panjunan. Unsur budaya Islam terlihat dari fisik dan fungsi masjid, terlihat pada mimbar, mihrab, tempat wudhu, dan beberapa ragam hias kaligrafi yang terlihat di tiang dan blandar.

Unsur budaya Jawa terlihat pada arsitektur masjid ini, yaitu dengan adanya tajug dan limasan. Sementara itu, pengaruh dari China adalah penggunaan beberapa keramik produksi Tiongkok untuk hiasan tempel, dan penggunaan bahan sirap seperti pada bangunan khas China.

Makna-makna filosofis dan simbol-simbol di Masjid Merah Panjunan merupakan pengaruh Hindu. Tentu saja kemudian makna filosofis dan simbol itu disesuaikan dengan ajaran Islam. (WARTA KOTA – Dian Anditya Mutiara)

Empal Gentong bikin Goyang Lidah

0 komentar


Menyantap hidangan berkuah asli Cirebon ini bukan hanya bikin kenyang tetapi juga bisa mengobati rasa kangen kampung. Sajian khas dari kota udang ini bisa jadi menu makan siang yang mantap. Cukup dimakan dengan nasi putih plus sedikit sambal. Rasanya gurih lezat!

Nama empal gentong memang sesuai dengan bahan utama racikan hidangan berkuah asal Cirebon ini. Nama empal menunjukkan bahan utamanya memang daging sapi dengan sedikit lemak. Sedangkan sebutan gentong untuk menunjukkan proses memasaknya memakai kuali atau periuk tanah liat.

Istilah empal di Cirebon adalah gulai, bukan gepuk atau dendeng. Disebut demikian karena dimasak paling sedikit lima jam dalam gentong atau kuali menggunakan bahan bakar khusus, yaitu kayu dari pohon asam. Hal itu guna menciptakan rasa dan tingkat keempukan daging.

Cara memasak dengan kuali ini sudah dilakukan secara turun temurun. Wadah tanah liat yang sudah dipakai bertahun-tahun akan memberi sentuhan rasa sedap yang tiada tara. Tentu saja karena kerak bumbu sudah mengendap di pori-pori tanah liatnya.

Pada saat disajikan api harus tetap membara untuk menjaga suhu makan standar. Paduan daun kucai sebagai penyedap sekaligus penetralisir lemak serta sambal cabai kering dan kerupuk rambak menjadikan rasa yang khas. Cabai kering ini dipakai supaya tidak menimbulkan sakit perut bagi orang-orang yang tidak kuat pedas.

Salah satu penjual empal gentong adalah Warung Zubaedah yang lokasinya dekat dengan Stasiun Kereta Api Cirebon. Ia mulai berjualan di tempat itu sejak tahun 2003. Setiap hari dibutuhkan 10 kilogram daging sapi.

Dari 10 kilogram daging tersebut, tidak semuanya murni daging tetapi ada campurannya juga, seperti paru, babat, iso, tulang muda. Tinggal dipilih sesuai dengan selera. "Kalau orang zaman dulu malah sempat pakai daging kerbau. Itu juga karena populasinya masih banyak dan juga dipercaya punya efek kuat untuk kebutuhan jasmani," ujar Zubaedah (65) sambil tersenyum.

Kepala sapi
Di Cirebon, warung empal gentong memang mudah ditemukan. Salah satu yang direkomendasikan adalah Warung Mang Darma. Ia sudah berjualan empal sejak tahun 1948 secara berkeliling di Kota Cirebon. "Sekarang Bapak sudah tak mampu berjualan", tutur Casita, anak Mang Darma yang kini mengurus warung tersebut. "Soalnya sudah usia 80 tahun. Jadi harus istirahat di rumah", tambahnya.

Awalnya, tutur Casita, Darma bekerja sebagai penumbuk bumbu pada penjual empal gentong lainnya. Lama-kelamaan, ia pun hafal bumbu empal gentong. Karena itulah sejak tahun 1948 ia keluar dan membuka usaha sendiri dengan berjualan keliling.
Kemudian sejak tahun 1982, Darma mangkal di dekat rel kereta, tak jauh dari lokasi jualan saat ini. "Di tempat ini baru sekitar 5 tahun," jelas Casita.

Sesuai dengan namanya, empal gentong, daging dimasak di dalam gentong dari tanah liat selama lebih dari 10 jam. Yang dimasak tidak terbatas hanya daging, tetapi juga jeroan seperti limpa, paru, hati, usus, babat, bahkan kepala sapi. "Soalnya memang ada yang suka," ujarnya.

Dalam sehari, Warung Darma bisa kedatangan 100 orang. Untuk itu ia menyediakan 25 kilogram daging dan jeroan. Tak heran kalau hasilnya bisa mencapai Rp 700.000. Belum termasuk bila mendapat pesanan untuk rapat, arisan, atau pesta.

Pembeli bisa memilih sendiri daging atau jeroan yang dikehendaki. Setelah itu daging dalam gentong tadi akan dipotong kecil-kecil dan disiram dengan kuah. Di atasnya lalu ditaburi bawang goreng dan daun bawang. Empal gentong bisa disajikan dengan nasi atau lontong, sesuai selera pengunjung.

Kini empal gentong Mang Darma dijual Rp 13.000 per porsi. Sebagai pelengkap, biasanya disediakan kerupuk lambak (kerupuk kulit kerbau) yang didatangkan dari Plered, disebut derokdok.

Selain di Jalan Slamet Riyadi, empal gentong Mang Darma juga bisa di temukan di beberapa tempat di Cirebon seperti di Pujagalana, Stasiun Kereta Api Cirebon atau di Grage Mal, yang semuanya dikelola anak-anaknya. Di Jakarta, empal gentong Mang Darma bisa ditemukan di daerah Bintaro.

Sumber : Warta Kota Dian Anditya M

Nasi Lengko

0 komentar



Cirebon tidak hanya punya hidangan khas nasi jamblang. Saat berkunjung atau sekadar melintas kota di pesisir utara Jawa itu, cicipilah nasi lengko. Meski sama-sama berbahan dasar nasi, penyajian dan lauk lengko berbeda dengan jamblang.

Memang agak sulit menemukan penjual nasi lengko. Salah satunya di Jalan Pagongan, Cirebon. Warung milik H Barno itu sudah 13 tahun berdiri. Meski hanya warung, daya tampungnya mencapai 100 pengunjung.

Nasi lengko sebenarnya mirip dengan nasi pecel. Isinya berupa nasi yang di atasnya diberi irisan kecil timun, taoge, daun bawang, irisan tempe, dan tahu. Kemudian disiram dengan bumbu kacang yang lumayan pedas beserta taburan bawang goreng dan irisan daun kucai.

Rasanya kurang lengkap bila menikmati nasi lengko ini tanpa sate kambing. Untuk itulah di warung ini pun menyediakan sate kambing yang begitu empuk dan tanpa bau prengus kambing. Rahasia daging yang begitu empuk tersebut adalah karena yang dipilih adalah kambing muda berusia satu tahun. Dalam sehari warung ini membutuhkan sekitar 30-40 kg daging kambing.

Kelezatan nasi lengko sebenarnya ditentukan oleh rasa pedas sambalnya. Namun bagi yang tidak suka pedas, jangan khawatir. Tuang kecap di atas sambal sesuai selera. Rasa kecap manis bercampur sambal dijamin lezat di lidah. Lebih afdol lagi bila disantap bersama kerupuk.

Barno menuturkan, sewaktu kakak iparnya berjualan dulu, malah sempat nasi lengko ini dilengkapi juga dengan cabai bubuk dan nasinya juga dibungkus dengan daun jati. Namun ternyata untuk saat ini konsumen kurang menyukai rasa dari cabai bubuk tersebut.

Lantas apa sebenarnya rahasia nasi lengko. "Semuanya dikerjakan secara tradisional," jelas Barno. Untuk menanak nasi, ia menggunakan kayu bakar. Untuk menggoreng tahu atau tempe digunakan anglo (kompor tradisional) yang menggunakan arang.

Sistem memasak secara tradisional ini, diakui Barno, cukup merepotkan tapi hal itu dilakukan demi mempertahankan rasa. Selain itu, tempenya didatangkan dari Wanasaba, Kabupaten Cirebon, yang khusus membuat tempe untuk nasi lengko yang berbentuk kotak-kotak kubus kecil sepanjang 4 cm.

Satu porsi nasi lengko harganya Rp 7.000, sedangkan sate kambing muda Rp 20.000 per sepuluh tusuk. Uniknya lagi, warug nasi ini juga menyediakan es duren, mirip dengan es puter, rasanya lembut ditambah lagi dengan buah durennya yang masih utuh.

Warisan orangtua
Dalam menjalankan usaha, Barno (55), dibantu istrinya Hj Yayah Rukiyah (52). Layaknya usaha profesional, mereka tinggal mengendalikan manajemen. Sang pemilik warung ini lebih suka bekerja di belakang layar. "Sudah ada pegawai yang ngurusi. Kami lebih suka memotong daging begini saja," tutur Barno saat menunggui istrinya memotong-motong daging kambing.

Yayah mengisahkan, usaha nasi lengko itu diwarisi dari ayah mertuanya, H Sardi. Sejak tahun 1968, Sardi sudah jualan nasi lengko. Dulu, ia berjualan keliling di kawasan Pagongan. "Setelah beliau sudah tua dan tak kuat berkeliling lagi, kami meneruskan usaha ini," tutur ibu lima anak ini.

Awalnya memang hanya ikut-ikutan membantu kakak iparnya yang menjual nasi lengko. Setelah memiliki modal, Barno mendirikan warung nasi lengko sendiri. Kini sehari ia harus menyediakan 40 kg beras untuk melayani para pelanggannya atau sekitar 400 porsi.

Bedanya, Barno tidak keliling memikul dagangan. Ia memilih menggelar dagangannya di emperan toko di Pagongan. Ternyata, berjualan secara menetap banyak untungnya. Pelanggannya tak susah mencari. Peminat pun semakin banyak. "Apalagi, saat itu belum ada orang yang jual nasi lengko di sini," jelas Yayah.

Oleh karena pembelinya semakin banyak, Yayah dan Barno tergerak ingin memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumennya. Tahun 1987, mereka menyewa kios yang ditempati sampai sekarang. "Agar orang mudah mencari, sengaja kios dicat dengan warna kuning menyala. Tapi kami tetap mempertahankan gerobak sebagai wadah dagangan," ujar Yayah.

Dikatakan Yayah, kini ayah mertuanya sudah tiada. Terkadang, ibu mertuanya yang tinggal di Desa Megu, Plered, ikut membantu. "Bila mendapat pesanan orang yang punya hajat pesta, ibu mertua ikut menyiapkan dagangan," ucapnya.

Dengan membuka warung khusus nasi lengko, Yayah dan Barno sudah ikut memasyarakatkan hidangan khas Kota Udang itu. Mereka pun berharap nasi lengko semakin dikenal masyarakat luas. Itu sebabnya, mereka tak keberatan bila karyawannya menyatakan ingin keluar dan membuka usaha yang sama. "Enggak apa-apa. Rezeki orang berbeda-beda," komentar Yayah.

Warung nasi lengko Pak Barno buka sejak pukul 06.00 hingga pukul 20.00. Sehari-hari pembelinya tak pernah berhenti. "Paling ramai Minggu pagi. Biasanya orang habis olahraga lalu mencari sarapan ke mari," katanya.

Nasi Lengko H Barno
Jalan Pagongan No. 15 B
Cirebon
Telepon (0231) 210064
Buka: 06.00-20.00

Sumber : Warta Kota Dian Anditya M

Wisata di Pantai Kejawanan Pegambiran

0 komentar



BAGI MASYARAKAT CIREBON, sebelum tahun 2000 Pelabuhan Kejawanan merupakan pelabuhan sebagai Tempat Pelelangan Ikan (TPI) bagi para nelayan, juga sebagai tempat memancing bagi masyarakat Cirebon.

Kini Pelabuhan Kejawanan selain berfungsi sebagai (TPI) bagi para nelayan. Pelabuhan Kejawanan
juga merupakan tempat obyek wisata pantai yang sering dikunjungi oleh wisatawan baik masyarakat Cirebon sendiri ataupun luar Cirebon.

Hal ini tentunya harus mendapat penanganan yang serius dari instansi terkait dalam penataannya dan perawatannya sebagai salah satu obyek wisata pantai yang ada di Kota Cirebon, agar kelestarian Pelabuhan Kejawanan tetap terjaga sebagai salah satu obyek wisata.

Seperti halnya hutan Bakau sebagai salah satu tanaman laut yang berfungsi untuk penyerapan air sekaligus
sebagai tempat tinggalnya habitat burung laut. Namun kini kondisinya sangat memperihatinkan tidak lagi dijumpai hutan bakau yang lebat, serta lingkungan disekitar areal obyek wisata pelabuhan kejawanan masih banyak dengan sampah.

Dengan kondisi seperti ini tentunya sebagai tempat obyek wisata tidaklah menyenangkan bagi para pengunjung karena akan berdampak pada, kurangnya minat wisatawan untuk berkunjung.

Hal ini juga akan dirasakan bagi para pedagang yang menggantungkan hidup di tempat obyek wisata pantai Pelabuhan Kejawanan, bila kondisi ini tidak segera diperbaiki.

Alangkah sayangnya bila sebuah obyek wisata tidak lagi ditemukan keindahan panorama yang alami serta tidak lagi bisa menikmati kehidupan habitat burung laut, karena rusaknya hutan Bakau sebagai ekosistim tempat tinggal dan kehidupan satwa laut.

Kemanakah nasib para pedagang yang selama ini menggantungkan hidup di lokasi wisata tersebut bila wisatawannya tidak lagi ditemukan akibat tidak terpeliharanya sebuah obyek wisata bahari.

Beberapa masyarakat sekitar menuturkan, pantai kejawanan mulai ramai dikunjungi orang sejak berdirinya rumah makan yang menyediakan kuliner khas pantura, khusunya ikan bakar. mulanya orang yang datang kesana hanya untuk menikmati kuliner di rumah makan tersebut yang letaknya memang persis dibibir pantai, tapi kemudian akibat dari mulut ke mulut, banyak orang yang sengaja datang untuk menikmati udara dan pemandangan laut, sampai akhirnya banyak juga yang berenang di laut.

bahkan pantai Kejawanan juga ada sebagian masyarakat yang percaya untuk dijadikan therapy dengan cara berendam di air laut yang mereka yakini bisa untuk mengobati penyakit seperti, diabetes, asam urat, reumatik, penyakit kulit dan beberapa penyakit lainnya. Tidak jelas memang apakah ada penelitian untuk pembuktian dari kadar garam yang bisa mengobati untuk itu atau tidak, tapi yang jelas banyak cerita yang mengatakan setelah beredam di Pantai Kejawanan mereka yang stroke pun berangsur pulih, Wallahuallam...

Sebetulnya Pantai Kejawanan bukanlah pantai seperti Pantai dengan pasir putihnya seperti di Kuta Bali (liat foto penulis berkaos dalam itu fotonya di Kuta Bali Loh..hehehehe), namun dibandingkan dengan dengan Ancol yang penulis liat lebih baik dan bersih di Pantai Kejawanan. Meskipun warna pasirnya hitam bercampur lumpur, tapi air lautnya tidak sekeruh di Pantai Ancol. Dan memang sampai saat ini pantai yang terletak di Kelurahan Pegambiran kecamatan lemawungkuk ini masih dibiarkan begitu saja dan belum ada tanda-tanda dikelola dengan cepat, bahkan karena rame secara mendadak pihak Pemerintah Kota Cirebon baru berupaya merencanakan menata Pantai tersebut, yang konon katanya akan diberi nama Pantai Susun Kejawanan ( Susun adalah singkatan dari Subardi - Sunaryo = Walikota dan Wakil Walikota Cirebon yang sekarang) yang semoga disaat kepemimpinan beliau dapat diresmikan penggunaannya ya tentunya pasti nama tersebut yang akan di proklamasikan, tapi kalau sampai berakhir masa jabatan beliau lantas belum diresmikan tentunya ada nama lain...hehehehe)

Sebatas masukan, bahwa Pantai Kejawanan Cirebon itu dalam kondisinya sekarang ini memang sebuah embrio yang bisa dijadikan obyek wisata andalan. dan jika dikelola secara baik dan profesional, tentunya akan dapat menjadi sumber baru bagi PAD Kota Cirebon dan peluang usaha bagi para masyarakat sekitarnya, karena saat ini dari mulai tempat parkir, pedagang asongan sampai yang menyewakan peralatan renang pun mereka masih menginduk pada IPK ( Ikatan Pemuda Kejawanan , sungguh sangat disayangkan.

Kalau saja digarap secara Simultan dengan menyediakan souvenir berupa cinderamata hasil kerajinan yang berasal dari binatang laut, dan kedai-kedai makanan khas laut. tentunya akan lebih banyak lagi menarik minat para pengunjung datang ke Pantai Kejawanan.

RIWAYAT DOCANG

1 komentar Selasa, 13 Juli 2010


Bila Berkunjung ke Kota Cirebon maka jangan lewatkan makanan yang satu ini, makanan yang sederhanan namun penuh religius saat jaman Wali Sanga ini cukup banyak digemari masrakat, Makanan khas Cirebon yang masih bertahan hingga saat ini, namun sayang penjualannya tidak sebanyak jaman dulu.
Docang ini diracik dengan bahan baku segar, mulai dari daun singkong, taoge rebus, hingga parutan kelapa. Ditambah dengan lontong dan kuah bercampur dage (oncom), serta bila lebih afdol maka ditambahkan sambel dijamin mak yoossss...dech

KULINER di Kota Cirebon sangat kaya, tidak hanya empal gentong atau nasi jamblang. Ada satu makanan yang bisa dikatakan hampir “punah” ditelan kemajuan zaman dan perkembangan makanan siap saji. Masyarakat menyebutnya Docang.

Docang adalah makanan khas Cirebon, yang merupakan perpaduan lontong, daun singkong, tauge, dan krupuk putih yang diguyur dengan sayur dage atau tempe gembus yang dihancurkan. Kemudian dikombinasikan dengan parutan kelapa muda.Bila yang membuat kurang terampil, maka hanya akan menghasilkan rasa pahit.

Makanan ini mempunyai rasa khas yang gurih dan nikmat apabila disajikan dalam keadaan panas atau hangat. Sedangkan harga relatif terjangkau semua kalangan.

Biasanya docang disantap untuk mengisi perut di pagi hari. Pada umumnya masyarakat Cirebon dan sekitarnya membeli makanan tersebut sebelum berangkat kerja. Kalau kesiangan sedikit saja, bisa-bisa tidak kebagian. Rata-rata pedagang menjual Docang mulai pukul 06.00 -10.00. Menurut beberapa pedagang docang di Cirebon kebanyakan mereka meneruskan usaha orangtua. Bisa dikatakan usaha turun temurun.

Seperti yang dilakukan Mang Toha (73). Pria itu sudah berjualan di Gang Rotan I, Karang Getas, Cirebon sejak tahun 1972. Dia mengaku meneruskan usaha sang ayah yang sudah berjualan sejak 1950 di tempat yang sama. Tak mengherankan jika pelanggannya saat ini sudah tiga generasi.

Menurut Mang Toha, docang itu singkatan dari kacang dibodo (dibacem), atau yang dimaksud adalah tempe bungkil. Pembuatan kuah cukup sederhana, gabungan dari kaldu, tempe bungkil dan oncom, salam, serai, jahe, ketumbar, bawang merah dan bawang putih, serta garam.

Setiap hari Mang Toha harus mengayuh sepedanya sejauh 10 kilometer dari Karang Tengah, Plered menuju Karang Getas dengan membawa dua keranjang rotan. Satu keranjang berisi kuali besar kuah docang sedangkan satu keranjang lagi berisi sayuran, lontong dan bumbu-bumbu lain.

Sesampainya di tempat, semua disiapkan. Kuah dage ditambah bumbu merah, seperti cabai yang dihaluskan. Setelah itu barulah ditambahkan bumbu penyedap. Untuk menghindari basi maka kelapa setengah tua diparut di lokasi jualan.

Sejak dahulu tempat berjualan Mang Toha tidak berubah, sama persis dengan peninggalan sang ayah. Tepat di ujung Gang Rotan I. Bagi mereka yang ingin makan di tempat, disediakan meja dan kursi kayu panjang di selasar gang.

Ibrahim (68), salah satu pelanggan setia docang Mang Toha, mengaku sudah sejak generasi pertama menggemari docang. "Dari segi bahan tidak ada perubahan, hanya rasanya yang agak berbeda. Sekarang pakai vetsin di dalam kuahnya, kalu dulu tidak," ujar Ibrahim yang ditemui usai sarapan docang.

Setiap hari, Mang Toha menggelar dagangan mulai pukul 07.30 sampai habis. Tidak tentu waktunya. Jika pembeli ramai, hanya dalam waktu dua jam dagangannya ludes. Seporsi docang Mang Toha dijual seharga Rp 5.000.

Ternyata, makanan docang ini memiliki sejarah tersendiri lho pada jaman dulunya. Tepatnya pada jaman para wali. docang makanan khas Cirebon, Jawa Barat Ketika para wali ini menyebarkan agama Islam masuk ke pelosok Jawa, muncullah Pangeran Rengganis yang membenci para wali karena menyebarkan agama Islam maka munculah niat untuk membunuh para wali dengan docang yang sudah dicampur dengan racun. Dialah yang pertama kali membuat docang dan menghidangkannya ke tengah-tengah para wali yang sedang berkumpul di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Keraton Kasepuhan Cirebon.
Ia sengaja menciptakan kuliner baru yang disebut Docang, hal ini dimaksudkan agar para Wali tertarik dan penasaran untuk mencoba mencicipi makanan yang baru, padahal sudag ditaburi oleh racun oleh Pangeran Rengganis.

Rencana P. Rengganis berhasil. Docang yang disuguhkan itu benar-benar dimakan oleh para Wali. Tapi sungguh ajaib, racun yang dicampurkannya ke dalam docang itu tidak berpengaruh apa-apa. Setelah para wali makan docang itu, para wali bukannya mati, merekan malah ketagihan dan mereka minta tambah. Sampai sekarang, kebiasaan menyantap docang setiap menjelang Maulid Nabi Muhammad Saw menjadi tradisi. Anda dapat menemukan penjual docang panas di banyak tempat jajanan di Cirebon, salah satunya di alun-alun Keraton Kasepuhan. Cirebon yang berada di pesisir utara Jawa ini terkenal dengan sederet menu makanan tradisional yang tetap bertahan di tengah perubahan jaman.

PRIMBON :

NUMEROLOGI

Digital clock

Total Tayangan Laman

World Clock